Batam (gokepri.com) – PT Cladtek Bi Metal Manufacturing bersama Akar Bhumi Indonesia menanam 1.000 batang bibit pohon mangrove di hutan lindung Pancur, Tanjung Piayu, Kota Batam, Selasa, 30 April 2024.
Kegiatan dimulai dengan acara pembukaan dan diskusi terkait pengelolaan dan manfaat hutan mangrove bagi lingkungan.
Setelah itu, para relawan dari perusahaan bersama-sama menanam seribu bibit pohon mangrove dan melakukan gontong royong membersihkan lingkungan di area pesisir tempat bibit mangrove ditanam.
Baca Juga: Dari Trembesi ke Jati Emas: Penjelasan Organisasi Nirlaba Akar Bhumi tentang Penghijauan Batam
“Ini sebagai kegiatan yang pertama, kami mencoba menanam 1.000 mangrove. Harapan ke depannya jika proses monitoring berjalan lancar akan ada pohon kedua ribu, tiga ribu dan seterusnya,” kata ESG & Sustainability Manager Cladtek, Bionolla Shandiana.
Kegiatan menanam mangrove dari perusahaan multinasional yang bergerak di bidang perpipaan, cladding CRA dan komponen aksesori untuk industri minyak dan gas ini sebagai bagian dari kontribusi terhadap kelestarian lingkungan, pencegahan abrasi dan menahan laju emisi karbon.
“Harapan kami berdasarkan studi yang kita ketahui juga memang pohon mangrove punya kontribusi yang besar untuk mengurangi emisi karbon, dan itu salah satu konsen yang memang Cladtex punya,” kata Nola, sapaan akrabnya.
Selain menggandeng Akar Bhumi Indonesia, pihaknya juga turut mengajak rekan bisnisnya, Job Tomori dan elemen pemerintah seperti DLHK, KPHL dan Kecamatan Sei Beduk untuk turut serta berkontribusi menanam bibit mangrove.
Nola juga menyampaikan bahwa Cladtek memiliki visi dalam rencana jangka panjang untuk beralih ke energi yang lebih bersih, seperti solar panel energi. Menurutnya, dengan beralih ke energi bersih, Cladtek juga ingin menjadi bagian dari kontribusi menurunkan emisi karbon sebesar 30 persen pada tahun 2030.
“Masih melakukan studi dan mencari partner yang bisa merealisasikan mimpi ini bersama-sama dengan Cladtek,” ujarnya.
Sementara, Founder Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan mengatakan, perusahaan Cladtex juga akan turut melakukan pemeliharaan bibit yang telah ditanam selama satu tahun. Hendrik berharap Cladtek akan melakukan pemeliharaan hingga 5 tahun ke depan sampai bibit yang ditanam menjadi pohon dewasa.
“Mungkin nanti ditanyakan juga berapa lama butuh dipelihara, ya lima tahun, mudah-mudahan bisa survive di angka segitu,” ujar Hendrik.

Sepanjang tahun 2024, Akar Bhumi Indonesia telah menanam kurang lebih 2.670 bibit pohon mangrove. Hendrik mengatakan, penanaman dilakukan bersama berbagai pihak seperti pelajar, wisatawan mancanegara dan perusahaan.
“Kemudian hari ini dengan perusahaan baru satu, perusahaan Cladtek sebanyak 1.000 bibit,” katanya.
Hendrik menyampaikan, dari data DLHK dan KLHK kerusakan hutan di Batam baik hutan darat dan hutan laut sebesar 47 persen. Namun menurutnya, dari hasil pengamatan Akar Bhumi, kerusakan hutan berpotensi lebih dari angka tersebut.
“Kalau kami sendiri melihat, kami kan sering turun ke lapangan, pasti lebih di angka segitu ya,” jelasnya.
Sementara, untuk kerusakan hutan mangrove di Batam, bisa mencapai 50 persen.
“Kalau mangrove sendiri DLHK klaim 30 persen ya, kalau kami bilang ya 50 persen. Karena seperti yang kita lihat, ini kayak hijau padahal di dalamnya kosong,” jelas Hendrik.
Namun menurutnya, kualitas hutan mangrove dari hasil rehabilitasi dan konservasinya bersama Akar Bhumi Indonesia selama ini di Hutan Lindung Pancur sudah lebih baik.
“Tapi paling tidak, di sinilah boleh diklaim oleh KPHL kualitasnya masih lebih baik,” sebut Hendrik.
Hendrik menjelaskan, kerusakan lingkungan di Kota Batam bukan terjadi hanya karena penegakkan hukum. Namun juga, karena pengetahuan yang kurang dan ketidakpedulian masyarakat.
“Maka dengan program ini kita berharap, upaya yang dilakukan ini akan men-trigger masyarakat, semua pihak dalam upaya perlindungan lingkungan hidup, khususnya mangrove karena itu bagian integral dengan pulau-pulau kecil,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Muhammad Ravi









