Dari Trembesi ke Jati Emas: Penjelasan Organisasi Nirlaba Akar Bhumi tentang Penghijauan Batam

Penanaman jati emas di Batam
Salah satu kegiatan edukasi dari organisasi nirlaba Akar Bhumi Indonesia di sekolah di Kota Batam. Foto: akarbhumi.or.id

Batam (gokepri.com) – Organisasi nirlaba Akar Bhumi menyoroti upaya penghijauan Kota Batam dengan menanam 12.000 bibit pohon Jati Emas di bahu jalan. Dinilai tak ideal untuk penghijauan kota.

Adalah pendiri Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan, yang khawatir. Akar Bhumi adalah organisasi nirlaba yang anggotanya adalah aktivis lingkungan hidup.

Hendrik membandingkan Jati Emas dengan Trembesi dari segi penyerapan air, ketahanan pohon sampai kemampuan mengurangi gas emisi karbon.

HBRL

“Jati emas termasuk pohon produksi yang tidak tepat jika ditanam sebagai penghijauan di bahu jalan yang relatif membutuhkan pohon yang teduh, banyak daun, dan mampu menyerap emisi dari karbon hasil lalu lintas kendaraan bermotor,” ujar dia, Kamis 26 Agustus 2022.

Apalagi ada masa meranggas secara musiman yang artinya akan ada masa saat pohon itu sama sekali tak berdaun padahal kendaraan tak berhenti berlalu-lalang sepanjang masa.

“Karakter pohon Jati yang bertekstur keras juga menunjukkan bahwa pohon jati bukanlah jenis pohon untuk serapan air padahal Batam bukan saja butuh oksigen dan penyerap karbon saja, namun juga menghadapi kendala dengan banjir sehingga butuh pengikat alami yakni pohon yang sesuai dengan geologis,” papar Hendrik.

Selain itu, kondisi geologi Batam yang bertanah merah dan banyak mengandung logam, ia khawatir pohn Jati Emas tidak akan beradaptasi dengan baik.

Ia mengungkap BP Batam dan beberapa perusahaan pernah menanam Jati Genjah atau Jati Super ±10 (sepuluh) tahun yang lalu tepatnya di Teluk Lenggung (Pintu DAM Duriangkang dari arah Punggur).”Dan hanya tumbuh tak lebih dari hitungan jari tangan, pertumbuhannya pun cukup lambat. Mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagagalan tersebut diantaranya kurangnya perawatan atau sebab lain seperti ulah hewan atau manusia ataupun sebab alam,” papar dia lagi.

Akar Bhumi menyarankan untuk pengantian jenis pohon yang lebih sesuai dengan kebutuhan akan pohon bukan saja sebagai bagian dari hidrologi atau proses perjalanan air sebagai unsur penting bagi kehidupan namun juga sebagai fungsi lindung udara.

“Saat emisi karbon tidak terserap oleh pohon maka akan naik ke udara dan menyebabkan pantulan matahari dari bumi tidak dapat dipantulkan secara maksimal sehingga ini menyebabkan pemanasan global. Hal ini sesuai dengan kebijakan bersama dunia
tentang mitigasi dan adaptasi perubahan alam atau climate change,” jelasnya.

Hendrik menyebut ada beberapa jenis pohon yang baik untuk penghijaun jalan diantaranya: Raintree (Trembesi), jenis pohon ini ditanam oleh BP Batam (OB/Otorita Batam) pada masa awal-awal.

“Namun sayang kita menemukan pohon-pohon itu sudah banyak hilang
akibat pelebaran. Bahkan OB (Otorita Batam) pada waktu itu melakukan inventory jumlah pohon trembesi yang ditanam dan dimasukkan dalam aset pemerintah,” katanya.

Pohon itu memiliki nilai ekonomis dari fungsinya. Pohon trembesi ini memang umum ditanam di bahu jalan mengingat kemampuanya dalam mengikat air, tidak rentan dengan penyakit pohon, bertajuk rindang dan dahan melebar serta kemampuan pohon dalam gutasi atau kkemampuan mengeluarkan air berbentuk cairan dari jaringan daun dan
Stomata/mulut daun.

“Pohon trembesi ini juga memiliki kontruksi dahan yang artistik sehingga menambah keindahan lingkungan, kita bisa saksikan di Singapura khususnya di area Bandara Changi Airport, pohon-pohon trembesinya ditata dan dipelihara dengan baik sehingga menjadi karya arsitektur alam yang menyatu dengan menjulangnya bangunan,” katanya.

Selain kelebihan di atas ternyata pohon trembesi juga mampu menyerap CO2 puluhan kali dari pohon biasa. Pohon trembesi mampu menyerap 28,5 ton karbon diokasida setiap tahunnya. (diameter tajuk 15 meter).
Bandingkan dengan pohon biasa yang rata-rata mampu menyerap 1 ton CO2 dalam 20 tahun masa hidupnya.

Selain itu pohon Trembesi juga mampu menurunkan konsentrasi gas secara efektif, tanpa penghijauan dan memiliki kemampuan menyerap air tanah yang kuat. Mungkin karena kemampuan menyerap CO2 inilah maka pemerintah meluncurkan program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010 dengan trembesi sebagai pohon utama untuk ditanam.

Adapun jenis yang lain adalah jenis pohon endemik semisal Pulai dan Oriana akan lebih menunjang daya dukung lingkungan pulau Batam yang memiliki kerentanan tinggi meninggat daya tampungnya yang terbatas.

“Karena penghijauan di bahu jalan bukan menitik beratkan pada ekonomi namun lebih pada fungsi pohon untuk semua makluk hidup. Apakah kita menanam pohon jati itu untuk kita tebang suatu hari lagi dan menjualnya/mengunakannya? Kita tidak ingin,” katanya.

Penulis: Engesti

Pos terkait