Bahlil: Investasi Harus Libatkan UMKM

Menteri Investasi dan Kepala BKKPM Bahlil Lahadalia
Menteri Investasi dan Kepala BKKPM Bahlil Lahadalia

Jakarta (gokepri.com) – Kementerian Investasi/​Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memastikan investasi yang digenjot pada 2021 ini akan melibatkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Upaya tersebut juga akan menciptakan pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan.

“Dari 133 juta lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia, 120 juta di antaranya UMKM. Karena itu, harus diberikan ruang yang cukup untuk mendorong UMKM,” ujar Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Kamis (24/6/2021).

Bahlil mengatakan, pihaknya mendapat target realisasi investasi oleh Presiden Joko Widodo sekitar Rp900 triliun pada 2021. Jumlah ini disebut cukup tinggi, karena berdasarkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) target investasi itu sebanyak Rp856 triliun.

HBRL

Untuk mewujudkan ini, lanjut Bahlil, tentu saja harus dengan berbagai cara di luar kebiasaan. Sebab untuk menggenjot investasi di masa pandemi belum ada suatu teori atau buku yang dihasilkan dari kampus.

Pandemi Covid-19, kata Bahlil, membuat ekonomi semua negara terkontraksi. Di Asia hanya ada dua negara yaitu Tiongkok dan Vietnam yang ekonominya masih bertumbuh. Sementara Indonesia pertumbuhan ekonominya terkontraksi -2,19% pada 2020.

“Walau di Asia Tenggara kita masih lebih baik dibanding negara-negara tetangga, kecuali Vietnam. Sementara untuk negara G20, produk domestik bruto (PDB) kita nomor 2 setelah Tiongkok,” kata Bahlil.

Sementara untuk realisasi investasi 2020, kata Bahlil, mencapai Rp826,3 triliun atau 101,1% dari target Rp817,2 triliun. Dengan pencapaian itu, Kementerian Investasi akan mendorong investasi yang berkualitas dan inklusif.

Dalam rangka itu, kata Bahlil, maka baru pertama dalam sejarah selepas reformasi, investasi di luar Pulau Jawa pada 2020 lebih besar ketimbang di Pulau Jawa. Begitu juga dengan penanaman modal dalam negeri (PMDN), lebih baik ketimbang penanaman modal asing (PMA).

“Di hampir semua negara, foreign direct investment (FDI) itu turun sekitar 30 sampai 40 persen. Sedangkan di Indonesia, turunnya hanya sekitar 10 persen. Kenapa? Karena di awal 2020 ada investasi mangkrak itu Rp708 triliun dan sekarang kita sudah mampu menyelesaikan di sekitar Rp513 triliun. Karena itulah investasi 2020 masih tetap baik walau sedang pandemi,” ujar Bahlil.

Menurut Bahlil, pihaknya juga mendorong pertumbuhan realisasi investasi sejalan dengan pertumbuhan tenaga kerja. Untuk 2020, pertumbuhan tenaga kerja mencapai sekitar 1,1 juta orang.

Baca juga: Kemenkop UKM: Kolaborasi Bisnis GoTo Ciptakan Efesiensi Layanan UMKM

“Untuk 2021 ini, tantangannya luar biasa. Soalnya Presiden mencanangkan pertumbuhan ekonomi kita di atas 4,5 hingga 5,5 persen atau rata-rata 5 persen. Untuk mencapai ini di samping konsumsi yang mencapai 57 persen itu, maka investasi yang harus digenjot,” katanya. (wan)

Pos terkait