BATAM – (gokepri.com) – Inflasi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada September 2026 turun menjadi 3,49 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari 3,87 persen pada Agustus. Meski inflasi tahunan melandai, tekanan harga secara bulanan justru kembali meningkat. Pada September, Kepri mencatat inflasi 0,27 persen setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi 0,17 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri Rony Widijarto mengatakan, kondisi inflasi Kepri masih berada dalam kisaran sasaran, namun tekanan dari sejumlah komoditas tetap perlu diperhatikan.
“Inflasi Kepri pada September tercatat 3,49 persen secara tahunan dan masih berada dalam kisaran sasaran. Namun, kita tetap perlu mewaspadai tekanan harga pangan, khususnya cabai merah dan cabai rawit, serta sejumlah faktor eksternal yang dapat memengaruhi inflasi ke depan,” kata Rony.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan harga pada September terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,88 persen dengan andil 0,26 persen. Harga cabai merah, kangkung, dan cabai rawit meningkat akibat keterbatasan panen dari daerah sentra produksi di Sumatera bagian utara dan Jawa.
Selain itu, harga daging ayam ras ikut naik seiring meningkatnya permintaan di tengah pasokan yang terbatas. Kelompok pendidikan juga mencatat inflasi 0,41 persen dengan andil 0,03 persen. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi biaya akademi atau perguruan tinggi seiring pendaftaran ulang mahasiswa pada September.
Sementara itu, kelompok transportasi mengalami deflasi 0,25 persen dengan andil negatif 0,03 persen. Penurunan terutama dipengaruhi tarif angkutan udara yang turun setelah memasuki periode low season pascamusim liburan.
Secara tahunan, inflasi Kepri masih lebih tinggi dibandingkan nasional yang mencapai 3,28 persen. Komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Kepri adalah emas perhiasan sebesar 0,44 persen, angkutan udara 0,30 persen, bensin 0,27 persen, nasi dengan lauk 0,26 persen, dan beras 0,18 persen.
Tingginya harga emas perhiasan sejalan dengan perkembangan harga emas global. Sementara tarif angkutan udara dan harga bensin masih berada di atas level tahun sebelumnya. Harga nasi dengan lauk juga masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu akibat akumulasi kenaikan harga pada periode sebelumnya dan masih tingginya biaya bahan baku serta faktor produksi.
Secara spasial, seluruh daerah penghitungan IHK di Kepri mengalami inflasi. Batam mencatat inflasi 3,65 persen, Tanjungpinang 3,76 persen, dan Karimun 1,63 persen secara tahunan. Di kawasan Sumatera, inflasi Kepri berada di posisi kelima tertinggi setelah Aceh 5,03 persen, Kepulauan Bangka Belitung 4,30 persen, Lampung 3,51 persen, dan Sumatera Barat 3,50 persen.
Memasuki Oktober, BI Kepri mewaspadai volatilitas harga emas dunia, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, tekanan imported inflation, serta potensi kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit.
Rony mengatakan, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui peningkatan produksi pangan, pasar murah, penguatan kerja sama antardaerah, dan koordinasi lintas daerah.
“Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat sinergi melalui peningkatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan kerja sama antardaerah, dan koordinasi pengendalian inflasi agar inflasi Kepri tetap berada dalam sasaran hingga akhir tahun,” kata Rony.
Sejumlah langkah stabilisasi telah dilakukan sepanjang September, antara lain High Level Meeting TPID se-Kepri, Rapat Koordinasi TPID Kota Batam, penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai kabupaten/kota, serta penyaluran sarana dan prasarana ketahanan pangan kepada kelompok tani unggulan.
BI dan TPID menargetkan inflasi Kepri tetap terkendali dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen hingga akhir 2026.
Penulis: Engesti








