BATAM (gokepri.com) – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tumbuh 7,02 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2026, menjadi pertumbuhan tertinggi di wilayah Sumatera dan menempati posisi ketiga secara nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri Rony Widijarto mengatakan, pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh sejumlah sektor utama, terutama industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, dan pertambangan.
“Struktur ekonomi Kepri masih sangat kuat ditopang oleh sektor industri pengolahan,” kata Rony dalam kegiatan Bincang Bareng Media (BBM) di Kantor BI Kepri, Selasa (15/9).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan BI, industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap struktur ekonomi Kepri, yakni sekitar 41,57 persen.
Sementara sektor konstruksi menyumbang 19,87 persen dan perdagangan sebesar 10,06 persen.
Menurut Rony, kuatnya kontribusi industri pengolahan menunjukkan aktivitas ekonomi Kepri masih erat dengan kegiatan industri, investasi, dan perdagangan.
Posisi geografis Kepri yang berada di jalur perdagangan internasional juga menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangan sektor tersebut.
Dari sisi pengeluaran, investasi turut menjadi motor penting pertumbuhan ekonomi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat berkontribusi sekitar 44 persen.
Besarnya porsi PMTB menunjukkan aktivitas investasi dan pembentukan modal masih memiliki peran besar dalam menggerakkan perekonomian daerah.
Aktivitas investasi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga mendorong kegiatan konstruksi dan perdagangan serta berpotensi membuka lapangan pekerjaan.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga tetap menjadi komponen penting dalam menjaga perputaran ekonomi. Karena itu, daya beli masyarakat perlu terus diperkuat agar momentum pertumbuhan tetap terjaga.
Secara kewilayahan, Batam dan Bintan menjadi dua daerah yang turut menopang kinerja perekonomian Kepri. Aktivitas industri dan perdagangan di kedua wilayah tersebut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi.
Meski mencatat pertumbuhan tinggi, BI tetap melihat adanya indikasi perlambatan pada sejumlah komponen ekonomi yang perlu diantisipasi.
Rony mengatakan, keberlanjutan pertumbuhan Kepri membutuhkan penguatan sektor produktif, kesinambungan investasi, terjaganya konsumsi rumah tangga, serta peningkatan produktivitas.
“Penguatan sektor produktif dan kesinambungan investasi perlu terus dijaga, termasuk dengan meningkatkan produktivitas,” ujarnya.
Selain itu, konektivitas antara kawasan industri dan perdagangan perlu terus dioptimalkan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada sektor tertentu, tetapi memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Dengan pertumbuhan 7,02 persen pada triwulan II 2026, Kepri memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di Indonesia, khususnya di kawasan Sumatera.*
Penulis: Engesti
Bincang Media BI di Aula Raja Haji. (foto: engesti/gokepri.com)







