Pemko dan Apindo Batam Teken MoU Penyerapan Tenaga Kerja

Pemerintah Kota Batam bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam menandatangani kesepakatan bersama dengan sejumlah perusahaan untuk memperkuat komitmen penempatan dan penyerapan tenaga kerja lokal. (foto: engesti/gokepri.com)

Wamendagri Soroti Migrasi Batam Tertinggi di Indonesia

BATAM (gokepri.com) –  Pemerintah Kota Batam bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam menandatangani kesepakatan bersama dengan sejumlah perusahaan untuk memperkuat komitmen penempatan dan penyerapan tenaga kerja lokal.

Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menekan tingkat pengangguran terbuka sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi dan investasi di Batam berdampak terhadap kesempatan kerja bagi masyarakat setempat.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengapresiasi langkah tersebut, mengingat Batam menghadapi tantangan berupa tingkat migrasi yang disebutnya tertinggi di Indonesia.

“Data menunjukkan bahwa tingkat migrasi di Kota Batam ini tertinggi di Indonesia. Itu tantangan yang didapati oleh Pak Wali,” kata Bima Arya saat menghadiri penandatanganan kesepakatan bersama di Batam, Jumat.

Menurut dia, tingginya arus migrasi harus diimbangi dengan langkah pemerintah dan dunia usaha dalam menciptakan lapangan kerja serta mengantisipasi dampak sosial ekonomi yang muncul.

Ia menilai, kesepakatan antara Pemkot Batam dan Apindo merupakan bentuk nyata dari upaya membangun kolaborasi tersebut.

“Kementerian Dalam Negeri sangat mengapresiasi ini dan mendorong agar Pak Wali dan jajaran untuk terus membangun ekosistem yang melembaga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Bima mengatakan, pertumbuhan ekonomi Batam juga perlu diarahkan pada sektor-sektor strategis yang memiliki prospek untuk tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut dia, pembangunan ekosistem ekonomi tidak hanya berbicara mengenai sektor usaha, tetapi harus mencakup berbagai aspek dari hulu hingga hilir.

Ads bp batam 2026 baru

“Ekosistem itu kan dari hulu ke hilir. Kita berbicara tentang sektor apa yang prospektif, SDM-nya kesiapannya sejauh mana, kemudian pasar yang tersedia seperti apa, dan sistem pendanaan seperti apa yang dibutuhkan,” katanya.

Ia menegaskan. pemerintah tidak dapat mengandalkan belanja pemerintah semata untuk menggerakkan perekonomian dan membuka lapangan pekerjaan.

“Jadi tidak bisa hanya satu sektor saja, tidak bisa hanya mengandalkan government spending atau dari APBD atau APBN,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, kesepakatan bersama tersebut merupakan langkah konkret untuk meminimalkan tingkat pengangguran terbuka di Batam.

Ia berharap, pertumbuhan ekonomi dan perkembangan investasi di Batam dapat berjalan paralel dengan semakin terbukanya kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.

“Ini adalah jawaban bagi kita untuk berikhtiar meminimalisir tingkat pengangguran terbuka di Batam. Terus terang kita menginginkan agar pertumbuhan ekonomi dan perkembangan investasi itu berjalan paralel dengan kesempatan kerja yang mantap,” kata Amsakar.

Amsakar mengatakan, persoalan tenaga kerja di Batam tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan pekerjaan, tetapi juga dipengaruhi tingginya migrasi dan kesenjangan keterampilan.

“Problem pertamanya dari tingkat migrasi, problem kedua skill,” ujarnya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemkot Batam menyiapkan sejumlah program penguatan sumber daya manusia, termasuk melalui sektor pendidikan dan pelatihan kerja.

Amsakar menyebut tahun ini terdapat 12 anak dari keluarga tidak mampu yang berhasil diterima di sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia, lima orang diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan 30 orang diterima di Politeknik Negeri Batam.

Pemkot Batam, kata dia, juga mengalokasikan anggaran pendidikan sekitar 27 persen dari APBD, lebih tinggi dari ketentuan mandatory spending sebesar 22 persen.

Selain pendidikan formal, pemerintah daerah menyiapkan pelatihan tenaga kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan industri.

“Kita sudah lakukan mapping kebutuhan kerja yang diperlukan di Batam. Atas dasar mitigasi itulah, maka pelatihan tenaga kerjanya kita lakukan sesuai dengan permintaan pasar,” katanya.

Ia mencontohkan, kebutuhan industri pusat data yang berkembang di Batam sehingga pemerintah mendorong penguatan kompetensi tenaga kerja melalui pendidikan vokasi.

Menurut Amsakar, penguatan SDM tersebut menjadi penting agar investasi yang masuk ke Batam tidak hanya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka ruang lebih besar bagi masyarakat lokal untuk masuk ke dunia kerja.

Kesepakatan bersama tersebut melibatkan sejumlah perusahaan yang menyatakan komitmen terhadap penempatan tenaga kerja lokal, antara lain Epson, Long Motive, Pegatron, Simatelex, ASL, Giken, McDermott, Philips, Alfamart, Batam Aero Teknik, Indometal, NOV, Sat Nusapersada, Infineon, Panasonic, Schneider, Tunas, Citra Shipyard, JMS Batam, Pasifik Ocean, Centrum, WESCO, PCI, Itochu Shipyard, dan sejumlah perusahaan lainnya.

Penulis: Engesti

 

Pos terkait