Aneka Takjil Kerap Membuat “Lapar Mata”, Awas Bengkak Pengeluaran

Tunjangan ASN Lingga
Dokumen

JAKARTA (gokepri.com) – “Lapar mata” kerap dialami orang saat melihat aneka takjil yang dijajakan pedagang menjelang jam buka puasa. Ha itu tak jarang membuat pengeluaran membengkak dan makanan terbuang sia-sia.

Perencana keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Soetikno mengingatkan pentingnya pengelolaan anggaran selama Ramadhan agar pengeluaran tidak membengkak. Dalam mengelola anggaran bulanan, secara umum bisa menerapkan skema 40/30/20/10 dengan rincian 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen kewajiban seperti cicilan, 20 persen investasi atau tabungan, serta 10 persen untuk alokasi sosial seperti zakat dan donasi.

Dalam skema tersebut, membeli takjil termasuk dalam pos kebutuhan pokok. Artinya, pembelian takjil harus disesuaikan dengan batas anggaran yang sudah ditetapkan, bukan mengikuti keinginan sesaat.

“Memang ya, takjil itu apalagi kalau kita pergi ke bazar Ramadhan bikin ngiler. Tapi kita harus mengontrol jangan sampai malah lapar mata, dan pada akhirnya makanan itu mubazir dan uang terkuras,” kata Mike, Senin (23/2/2026).

Mike menilai fenomena “lapar mata” saat berburu takjil sering kali membuat orang membeli berbagai jenis jajanan dalam jumlah besar. Padahal, kapasitas perut setelah seharian berpuasa terbatas. Akibatnya, saat berbuka puasa, seseorang sudah kenyang oleh makanan manis dan gorengan.

“Kalau terlalu banyak makan takjil nantinya keburu kenyang yang manis-manis. Makanan utama yang lebih bergizi malah tidak termakan dan jadi wasting,” kata Mike.

Kondisi ini bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga meningkatkan sampah makanan. la menekankan pentingnya menerapkan prinsip hidup berkelanjutan dengan meminimalkan makanan terbuang. “Mubadzir juga kan tidak sejalan dengan nilai Islam,” kata dia.

Mike menyampaikan, selama Ramadhan pola makan umumnya hanya dua kali sehari yakni saat berbuka puasa dan sahur. Karena itu, takjil seharusnya dipandang sebagai bagian dari keseluruhan jadwal makan, bukan sekadar jajanan tambahan. la pun menyarankan agar masyarakat mengevaluasi jadwal makan harian.

“Bujet buka puasa bukan cuma soal beli takjil. Harus dilihat sebagai satu kesatuan dengan jadwal makan kita. Jangan sampai jajan takjil membuat anggaran makan bulanan jadi membengkak,” kata dia.

Agar tidak boros, Mike juga menyarankan untuk membuat takjil sendiri di rumah. Opsi ini dinilai bisa lebih hemat terutama bagi yang sudah berkeluarga. Supaya lebih terencana, Mike juga menganjurkan untuk membuat meal plan atau rencana makan setiap pekannya.

“Kan bisa juga takjil bikin sendiri, dan bikin meal plan. Dengan menyusun menu selama satu pekan, bahan makanan bisa diolah menjadi beberapa variasi hidangan agar tidak membosankan. Jadi semuanya lebih terukur dan tidak kelewat batas,” kata Mike.

Selain pembelian takjil, pengaturan anggaran menghadapi agenda buka bersama teman, kerabat, dan keluarga dinilainya juga penting penting.

“Bukber itu bagus sebetulnya karena kita saling silaturahim dengan teman lama, keluarga, atau rekan kerja gitu ya. Tapi agar keuangan nggak jebol memang harus dihitung dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing,” kata Mike. *

(sumber: republika.co.id)

Pos terkait