BATAM (gokepri) – Upaya revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar di Batam salah satunya memanfaatkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea (IK-CEPA). Menandakan kedekatan Negeri Ginseng dengan kawasan perdagangan bebas Batam.
Batu Ampar masuk dalam komitmen kerja sama Indonesia-Korea Selatan tersebut dalam kerangka pengembangan transportasi di Indonesia. Daftar kemitraan ini diungkap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Retno tengah kunjungan kerja di Korea Selatan pada 31 Maret 2023 dan mengadakan konferensi pers daring.
Kerja sama investasi Indonesia-Korsel disebutnya dapat berkontribusi dalam penguatan rantai pasok global. “Kita juga menyambut baik komitmen kerja sama Korea untuk pengembangan sistem transportasi di Indonesia, antara lain studi kelayakan MRT Jakarta fase 4 dan LRT Bali, pembukaan rute penerbangan Jeju Air ke Bali, dan upgrading Pelabuhan Batam,” tutur Retno.
Baca Juga: Tingkatkan Daya Saing Sektor Pelabuhan, Kepala BP Batam Modernisasi Batu Ampar
Meski belum detil dirinci apa saja peningkatan Batu Ampar tersebut, namun salah satu keterlibatan Korea Selatan di pelabuhan peti kemas itu adalah pembuatan container crane.
Pada Juni 2022, Direktur Badan Usaha Pelabuhan BP Batam Dendi Gustinanadar mengungkapkan container crane Batu Ampar dipesan dan diproduksi di Korea Selatan. Crane baru dan model pertama ini untuk melengkapi pembangunan yard seluas 2 hektare dan rel kontainer crane yang sudah tuntas pada 2022.
Container crane ini bisa memobilisasi 24 kontainer dalam satu jam. “Kontraknya (crane) kalau tidak salah sekitar Rp123 miliar. Lelangnya tahun lalu (2021),” ujar Dendi, Juni 2022. “Kita perlu minimal 3 atau 4 alat tersebut. Kalau ini sudah terealisasi, akan meningkatkan efisiensi dan cost logistic jadi lebih murah. Saat ini, dengan alat yang ada, bongkar muat untuk peti kemas hanya bisa dilakukan sekitar 4 sampai 8 peti kemas dalam 1 jam.”
Keterlibatan Korea Selatan di Batu Ampar menambah daftar kemitraan Negeri Ginseng dengan Kota Batam. Korea Selatan terlibat dalam pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di kota ini. Proyeknya dikerjakan oleh Hansol, perusahaan asal Korsel.
Selain itu, Korea Selatan turut bergabung dalam pengembangan dan pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam lewat skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Incheon International Airport Corporation (IIAC), perusahaan Korea Selatan, memiliki saham 30 persen dalam konsorsium di bawah bendera PT Bandara Internasional Batam.
Saham mayoritas dipegang BUMN, PT Angkasa Pura I sebesar 51 persen dan sisanya PT Wijaya Karya Tbk. (Persero) (WIKA). Ketiganya akan mengelola Hang Nadim selama 25 tahun sejak penyerahan pengoperasian bandara pada 25 Juni 2022.
Perjanjian IK-CEPA
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan pentingnya optimalisasi pemanfaatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea (IK-CEPA), guna memperdalam kerja sama ekonomi kedua negara.

Dalam Pertemuan Komisi Bersama (JCM) ke-4 RI-Korsel dengan Menlu Park Jin di Seoul pada Jumat, Menlu Retno memaparkan bahwa melalui IK-CEPA, kedua negara telah mencatat nilai perdagangan tertinggi sebesar 24,53 miliar dolar AS (sekitar Rp366,6 triliun) tahun lalu.
Angka tersebut naik 33 persen dibandingkan nilai perdagangan bilateral RI-Korsel pada 2021.
“Namun, kita masih memiliki ruangan yang cukup besar untuk meningkatkan perdagangan sehingga dapat mencapai target 30 miliar dolar AS (sekitar Rp448,4 triliun),” kata Retno, ketika menyampaikan keterangan pers secara daring mengenai kunjungan kerjanya di Korsel, Jumat malam.
Sejak pemberlakuan IK-CEPA awal tahun ini, lebih dari 1.000 sertifikasi asal barang (certificate of origin) telah diterbitkan guna mendapatkan tarif preferensi dengan nilai perdagangan 52,88 juta dolar AS (sekira Rp790,3 miliar).
Lebih lanjut, Menlu Retno menekankan pentingnya implementasi 18 proposal proyek yang telah diajukan Indonesia dalam kerangka IK-CEPA, yaitu di bidang pertanian, kesehatan, budaya, konstruksi, perikanan, otomotif, semikonduktor, dan teknologi informasi yang dapat meningkatkan kapasitas produsen Indonesia untuk memenuhi standar kualitas produk di pasar Korea.
“Saya juga meminta dukungan Korea terhadap percepatan digitalisasi industri manufaktur Indonesia guna meningkatkan kapasitas UMKM Indonesia,” tutur dia.
Mengenai kerja sama investasi, Retno menyampaikan harapannya agar sektor swasta Korea dapat meningkatkan investasi di sektor-sektor strategis Indonesia, seperti industri baja, petrokimia, baterai kendaraan listrik, energi terbarukan, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Kerja sama investasi Indonesia-Korsel disebutnya dapat berkontribusi dalam penguatan rantai pasok global.
“Kita juga menyambut baik komitmen kerja sama Korea untuk pengembangan sistem transportasi di Indonesia, antara lain studi kelayakan MRT Jakarta fase 4 dan LRT Bali, pembukaan rute penerbangan Jeju Air ke Bali, dan upgrading Pelabuhan Batam,” tutur Retno.
Sementara terkait kerja sama people-to-people contact, Retno mendorong agar target 300.000 wisatawan Korea ke Indonesia dapat ditingkatkan seiring semakin baiknya penanganan pandemi.
“Dalam hal ini, saya menyambut baik percepatan proses aplikasi visa Korea dari dua minggu menjadi tiga hari.Namun, saya juga mengusulkan agar Korea dapat memberikan bebas visa kepada wisatawan Indonesia untuk kunjungan singkat,” kata dia.
Dalam konteks kerja sama SDM, Retno menyambut baik tambahan kuota sebanyak 1.500 orang untuk pekerja Indonesia di sektor manufaktur di Korea.
Ia juga menyampaikan harapan agar Korea dapat membuka sektor baru untuk pekerja Indonesia, seperti perawat dan tenaga pengelasan di laut dalam (deep-sea welding).
“Saya dorong kerja sama pengembangan kapasitas tenaga kerja Indonesia melalui e-learning dan pendidikan vokasi dan politeknik, serta pembangunan Migrant Worker Center di Bekasi,” ujar dia.
Pelaksanaan JCM kali ini terbilang spesial karena bertepatan dengan perayaan 50 tahun Hubungan Indonesia-Korea Selatan.
Dalam perjalanannya, kedua negara telah memiliki Rencana Aksi Kemitraan Strategis Spesial RI-Korsel periode 2021-2025, dengan mekanisme scorecard untuk memantau implementasi berbagai program kerja sama.
Berdasarkan scorecard selama 2021-2022, terdapat 60 aktivitas kerja sama di berbagai bidang yang berjalan dengan baik.
Namun, Indonesia menekankan perlunya perhatian khusus terhadap kerja sama di bidang teknologi informasi dan komunikasi serta di bidang olahraga.
Indonesia juga menyoroti pentingnya kedua negara memperluas kerja sama pertahanan, termasuk melalui transfer teknologi.
“Saya tekankan kolaborasi antara BUMN Indonesia seperti PT PINDAD, PTDI, dan PT PAL dengan mitra di Korea perlu terus diperkuat,” kata Retno.
Dia juga menyampaikan pentingnya kedua negara mengoptimalkan mekanisme Defense Industry Cooperation Committee (DICC) dan Foreign and Defense Senior Officials Meeting (2+2 SOM) untuk membahas berbagai isu strategis, seperti keamanan siber, operasi pemeliharaan perdamaian PBB, keamanan maritim, serta pemberantasan korupsi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









