Karimun (gokepri.com) – Mengupas keindahan alam Karimun tidak akan pernah habisnya. Selain memiliki beragam objek wisata pantai, negeri berjuluk “Bumi Berazam” ini juga menyimpan potensi wisata lain yang tak kalah hebat. Salah satu wisata yang menarik untuk dijajal adalah mendaki gunung.
Gunung Jantan salah satu pilihan bagi mereka yang hobi berpetualang di alam bebas. Pecinta olahraga ekstrem ini bukan hanya berasal dari Karimun, namun juga para petualang dari Batam bahkan hingga negeri jiran Malaysia. Mereka sengaja datang untuk menguji adrenalin menaklukan jalur gunung yang memiliki kemiringan cukup curam ini.
Gunung Jantan berada di Desa Pongkar, Kecamatan Tebing. Gunung ini memiliki ketinggian 439 meter dari permukaan laut (mdpl).
Secara gerografis, letak Gunung Jantan berada di utara Pulau Karimun Besar. Jika pengunjung datang dari arah pusat Tanjungbalai atau pelabuhan, maka diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai kaki gunung.
Sebelum mencapai pintu rimba atau pintu masuk Gunung Jantan, pengunjung harus melewati jalan menuju objek wisata Air Terjung Desa Pongkar, hanya berjalan kaki sekitar 15 menit, maka pengunjung sudah sampai di kolam Air Terjun Desa Pongkar atau kawasan pintu masuk Gunung Jantan.
Perjalanan diawali dengan trek mendatar dengan disisi sebelah kanan jurang yang tidak terlalu dalam. Pada jalur pembuka ini, pendaki beberapa kali menjumpai anak sungai.
Dalam anak sungai, banyak dijumpai aneka jenis ikan air tawar dan juga udang. Bahkan, beberapa jenis kura-kura juga dijumpai di hidup di gunung ini, salah satunya kura-kura matahari.

Semakin ke atas jalur semakin menanjak dengan trek tingkat kemiringan yang mulai sulit. Jika tak hati-hati, maka pengunjung bisa terpeselet ke dalam jurang yang berada di sisi sebelah kiri.
Hutan Gunung Jantan masih asri, bukan hanya keasrian hutan yang dapat dirasakan selama pendakian ke Gunung Jantan. Banyak pesona lain yang bisa ditemukan di objek wisata ini. Beberapa flora dan fauna masih terjaga dengan baik disana, seperti bunga Kantung Semar. Kawasan di sekitar Gunung Jantan merupakan rumah bagi kawanan monyet hutan.
Setelah melewati beberapa aliran anak sungai, maka jalur yang dilalui akan didominasi jalanan tanah sempit yang disisi kiri dan kanan ditumbuhi tanaman perdu. Untuk melewati jalur dengan aman, pengunjung bisa mengatur nafas dengan pelan sambil menapaki satu demi satu tanjakan yang dibatasi akar pohon.
Sekitar 20 menit melakukan pendakian, maka pendaki akan menjumpai shelter dengan lapangan yang lumayan luas. Diprediksi, lokasi ini mampu memuat sekitar 5 atau 6 tenda. Untuk mencapai shelter ini, pendaki harus melewati tanjakan dengan kemiringan mencapai 90 derjat. Biasanya, shelter ini digunakan untuk istirahat dengan waktu yang cukup lama.

Usai meninggalkan shelter Gunung Jantan, maka perjalanan dilanjutkan dengan trek yang lumayan panjang. Namun, sesekali masih dijumpai dataran sebagai bonus bagi pendaki. Pemandangan yang menarik akan dijumpai ketika sampai di gugusan batu granit, yang persis berada di jalur pendakian Gunung Jantan.
Gugusan batu granit dengan ukuran cukup besar itu membelah jalur menuju puncak Gunung Jantan. Biasanya, pendaki akan memanfaatkan lokasi itu untuk istirahat sebentar sembari tiduran diatas batu yang landai. Karena lokasinya yang lumayan menarik, tak jarang pendaki mengabadikan saat berada di batu granit tersebut.
Dari gugusan batu granit, jalur yang dilewati semakin tegak dengan trek terpanjang menuju puncak. Disisi kiri dan kanan jalur banyak ditumbuhi pohon dengan tekstur kulit warna kuning emas. Jika siluet cahaya matahari tembus ke disela-sela pohon, maka akan terpendar cahaya keemasan.
Sekitar dua jam menempuh perjalanan, maka pendaki akan sampai di puncak Gunung Jantan. Namun, untuk mencapai puncak bukanlah perkara mudah, nyali para pendaki harus diuji dengan trek yang tegak. Untuk melewati trek ini, pendaki harus separuh merangkak. Namun, untuk memudahkan pendaki biasanya sudah disediakan tali untuk pegangan.
Puncak Gunung Jantan ditandai dengan adanya batu yang cukup besar. Sebagian pendaki menyebut batu tersebut dengan “Batu Garuda”. Penat dan lelah pendaki akan terbayarkan begitu sampai di puncak. Dari puncak Gunung Jantan, pengunjung dapat menyaksikan hamparan luas Selat Malaka dengan hilir mudik ratusan kapal.

“Saya sengaja membawa keluarga dan anak yang masih duduk di taman kanak-kanak untuk mendaki Gunung Jantan. Sudah lama anak tertua saya meminta untuk dibawa mendaki gunung ini. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga. Bahkan, kami mampu mencapai puncak Gunung Jantan,” ungkap Hendra, salah seorang warga Karimun, Ahad, 26 Juni 2022.
Hendra sengaja mengajak putranya, Muhammad Fathan Alfgifari dan Muhammad Abrar Alfarizi dan keluarga besar lainnya, Desmi bersama anaknya Dinda untuk menjajal Gunung Jantan.
Saat berbaur dengan hutan dan rimba, dirinya ingin mengetahui sejauh mana kemampuan putranya itu mengenal alam bebas. ia ingin anaknya memiliki kepekaan dan kepedulian tinggi untuk melestarikan keindahan alam di Karimun.
Penulis: Ilfitra









