Industri Pengolahan Masih Jadi Tulang Punggung Ekonomi Kepri 2025

Tarif impor as
Industri manufaktur di Batam. Foto: BP Batam

BATAM (gokepri) — Ekonomi Kepulauan Riau tumbuh 6,94 persen sepanjang 2025, tertinggi di wilayah Sumatera. Kinerja ini ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan serta mulai beroperasinya lapangan migas baru.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan akselerasi signifikan pada triwulan IV-2025 yang mencapai 7,89 persen (yoy). Angka ini melampaui pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 7,48 persen. Sebagai perbandingan, rata-rata pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera pada periode yang sama hanya berada di angka 4,81 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Rony Widijarto Purubaskoro, mengungkapkan capaian ini mencerminkan daya tahan ekonomi daerah. “Kinerja ini menunjukkan optimisme di tengah dinamika global,” ujarnya dalam keterangan resmi di Batam, Jumat 6 Februari 2026.

HBRL

Baca Juga: Ekonomi Batam Tumbuh 6,69 Persen, Industri Pengolahan Jadi Penopang

Laju pertumbuhan digerakkan oleh empat sektor utama. Sektor industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung dengan pertumbuhan 7,52 persen. Meski dibayangi kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat, sektor ini tetap solid. Di sisi lain, sektor pertambangan dan penggalian melonjak tajam sebesar 16,01 persen berkat pengoperasian lapangan migas baru sejak Mei 2025.

Selain itu, geliat konstruksi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri menyumbang pertumbuhan 5,30 persen. Sektor perdagangan juga ikut terangkat sebesar 7,55 persen, didorong oleh tingginya konsumsi masyarakat saat momentum hari besar keagamaan.

Investasi pun menjadi motor penggerak penting. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,81 persen dengan kontribusi sebesar 2,81 persen, didukung kemudahan perizinan melalui PP Nomor 25 dan PP Nomor 28 Tahun 2025. Kondisi ini menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi para pelaku usaha.

Konsumsi rumah tangga juga tumbuh solid 3,84 persen dengan kontribusi 1,51 persen terhadap pertumbuhan daerah. Di saat yang sama, kinerja ekspor neto melesat kuat hingga 20,52 persen seiring stabilnya permintaan komoditas unggulan.

Sektor keuangan di Kepri menunjukkan tren positif. Kondisi perbankan di Kepri terpantau sehat. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,22 persen (yoy), sementara penyaluran kredit melonjak hingga 25,92 persen (yoy). Secara spesifik, pembiayaan korporasi tumbuh 37,00 persen dan sektor UMKM meningkat 13,21 persen.

Digitalisasi transaksi turut berperan. Hingga Desember 2025, volume transaksi QRIS di Kepri mencapai 99,44 juta transaksi, melesat 192,69 persen (yoy). Nilai transaksinya pun menyentuh angka Rp11,54 triliun atau tumbuh 129,60 persen (yoy). Tren ini diperkuat dengan peningkatan transaksi QRIS lintas negara bersama Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Meski ekonomi melaju kencang, tekanan harga tetap membayangi. Inflasi Kepri sepanjang 2025 berada di angka 3,47 persen (yoy), masih dalam koridor sasaran nasional 2,5±1 persen. Tekanan harga terutama bersumber dari komoditas seperti emas perhiasan, cabai merah, cabai rawit, daging ayam, serta tarif angkutan udara.

Bank Indonesia memastikan koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat melalui strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Ke depan, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Kepri akan tetap stabil. Keberlanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan pengembangan kawasan industri baru diharapkan menjadi fondasi kuat untuk menjaga momentum pertumbuhan di tahun mendatang.

Baca Juga: Ekspor Kepri Naik, Peran Manufaktur Tak Tergantikan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait