BATAM (gokepri) — Batam menutup 2025 dengan catatan ekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi kota industri ini mencapai 6,89 persen hingga triwulan III, ditopang realisasi investasi sebesar Rp54,7 triliun. Capaian itu menjadi modal Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk memacu peran Batam sebagai magnet investasi nasional pada 2026.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan Batam sejak awal dirancang sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas. Posisi geografis di jalur pelayaran internasional Selat Malaka, ditambah berbagai insentif fiskal, membuat Batam memiliki keunggulan yang sulit disaingi daerah lain.
“Batam berada di salah satu jalur perdagangan terpadat di dunia dan berdekatan dengan negara-negara serumpun. Dengan fasilitas FTZ, ini menjadi daya tarik utama bagi investor,” kata Amsakar di Batam baru-baru ini.
Baca Juga: Apple Bangun Pabrik AirTag di Batam, Investasi AS Tetap Berjalan
Menurut Amsakar, pengalaman lebih dari enam dekade menunjukkan kebijakan FTZ mampu menjaga arus investasi tetap stabil. Tren investasi Batam, kata dia, secara konsisten berada di atas rata-rata Provinsi Kepulauan Riau maupun nasional, sejalan dengan laju pertumbuhan ekonominya.
Realisasi investasi yang tinggi itu mencerminkan aktivitas ekonomi yang berjalan nyata. “Kepercayaan investor masih terjaga,” ujar Amsakar.
Selama ini, industri manufaktur menjadi tulang punggung ekonomi Batam. Sektor ini menyumbang sekitar 56–60 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar melalui 31 kawasan industri yang beroperasi.
Namun ke depan, BP Batam mulai mengarahkan investasi ke sektor berteknologi tinggi. Salah satunya melalui pengembangan Nongsa Digital Park sebagai pusat investasi data center dan kecerdasan buatan.
Amsakar menyebut Apple tengah membangun fasilitas di Kawasan Industri Tunas 2. Proyek ini diyakini menjadi pemantik masuknya investor asing lain ke Batam.
Selain teknologi digital, energi baru terbarukan menjadi fokus berikutnya. Dua waduk di Batam saat ini disiapkan untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan potensi kapasitas hingga 555 ribu megawatt.
“Proyek ini mendukung ketahanan energi daerah sekaligus membuka peluang ekspor energi ke negara sahabat,” kata Amsakar.
Batam juga terus memperkuat posisinya sebagai pusat industri maritim nasional. Dengan 135 galangan kapal, Batam menjadi kawasan shipyard terbesar di Indonesia, memproduksi kapal penumpang hingga kapal untuk kebutuhan pertahanan.
Regulasi Dipangkas, Investasi Didorong
Memasuki 2026, BP Batam menetapkan lima sektor prioritas investasi: manufaktur, industri maritim, energi terbarukan, artificial intelligence, serta pergudangan dan logistik.
Sebagai kawasan FTZ, investor di Batam mendapatkan berbagai fasilitas, mulai dari pembebasan PPN, PPnBM, bea masuk, hingga insentif pajak. Untuk meningkatkan daya saing, BP Batam juga membenahi regulasi dan perizinan.
Upaya ini diperkuat dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2025 dan PP Nomor 28 Tahun 2025 yang memangkas rantai birokrasi. Kini, perizinan cukup diselesaikan di BP Batam tanpa harus berputar ke berbagai kementerian.
“Arahnya jelas, mempercepat layanan dan memberi kepastian bagi investor,” kata Amsakar.
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra menambahkan, meningkatnya penanaman modal dalam negeri sepanjang 2025 menunjukkan ekosistem usaha Batam semakin sehat. Nilai tambah, menurut dia, mulai lebih banyak tinggal di dalam negeri.
Catatan Dunia Usaha
Meski mencatat pertumbuhan di atas 6 persen, dunia usaha mengingatkan pentingnya melihat kualitas investasi. Ketua Apindo Batam Rafki Rasyid menilai, pertumbuhan ekonomi tinggi belum tentu berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja.
“Perlu dilihat apakah pertumbuhan ini ditopang industri padat karya atau padat modal. Kalau padat modal yang dominan, dampaknya ke lapangan kerja tentu terbatas,” ujar Rafki.
Ia mengapresiasi capaian investasi Batam, namun mengingatkan persaingan regional yang semakin ketat. Negara-negara tetangga terus berbenah untuk menarik investor.
Rafki menilai kedekatan Batam dengan Singapura dan fasilitas FTZ tetap menjadi keunggulan utama. Namun ia mengakui, persoalan perizinan masih menjadi pekerjaan rumah, meski pelimpahan kewenangan ke BP Batam sudah berjalan.
“Perlu waktu agar sistem benar-benar optimal. Mudah-mudahan awal 2026 prosesnya bisa lebih cepat,” ujarnya.
Dengan modal capaian 2025 dan strategi yang disiapkan, Batam kini bersiap melangkah ke fase baru: mempertahankan laju investasi, sambil memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan lebih luas.
Baca Juga: Bisakah Wisata Medis Batam Bersaing dengan Singapura dan Malaysia?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







