<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jensen Huang Archives &#8211; gokepri</title>
	<atom:link href="https://gokepri.com/tag/jensen-huang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gokepri.com/tag/jensen-huang/</link>
	<description>Inspirasi Bersama</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Jul 2026 16:24:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://gokepri.com/gokepri/uploads/2026/04/cropped-IMG_5700-32x32.jpeg</url>
	<title>Jensen Huang Archives &#8211; gokepri</title>
	<link>https://gokepri.com/tag/jensen-huang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kisah Sukses Nvidia, Dari Nyaris Bangkrut Kini Kuasai AI</title>
		<link>https://gokepri.com/kisah-sukses-nvidia-dari-nyaris-bangkrut-kini-kuasai-ai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Candra Gunawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2026 16:24:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Tekno]]></category>
		<category><![CDATA[Jensen Huang]]></category>
		<category><![CDATA[NVIDIA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=134706</guid>

					<description><![CDATA[<p>Nvidia nyaris bangkrut pada awal-awal berdiri. Sekarang menjadi raksasa AI. BATAM (gokepri) &#8211; Batam segera <a class="read-more" href="https://gokepri.com/kisah-sukses-nvidia-dari-nyaris-bangkrut-kini-kuasai-ai/" title="Kisah Sukses Nvidia, Dari Nyaris Bangkrut Kini Kuasai AI" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/kisah-sukses-nvidia-dari-nyaris-bangkrut-kini-kuasai-ai/">Kisah Sukses Nvidia, Dari Nyaris Bangkrut Kini Kuasai AI</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nvidia nyaris bangkrut pada awal-awal berdiri. Sekarang menjadi raksasa AI.</strong></p>
<p><strong>BATAM (gokepri)</strong> &#8211; Batam segera menjadi rumah bagi teknologi yang kini menjadi fondasi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia. Hingga 170.000 chip AI Nvidia akan dipasang di kampus pusat data berkapasitas 360 megawatt yang dibangun Firmus Technologies bersama Nvidia dan perusahaan pusat data asal Singapura, DayOne. Proyek yang diumumkan pada akhir Juni 2026 itu ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027 dan menempatkan Batam sebagai salah satu simpul baru infrastruktur AI di Asia Pasifik.</p>
<p>Bagi banyak orang, Nvidia identik dengan perusahaan teknologi paling bernilai di dunia. Chip buatannya dipakai untuk melatih model AI, menjalankan pusat data, hingga menopang layanan yang digunakan jutaan orang setiap hari. Namun, perjalanan menuju posisi itu jauh dari kata mudah.</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="https://gokepri.com/seperti-apa-pusat-data-ai-firmus-nvidia-di-batam/">Seperti Apa Pusat Data AI Firmus-Nvidia di Batam?</a></strong></p>
<p>Tiga puluh tahun lalu, perusahaan tersebut nyaris gulung tikar. Kasnya hanya cukup membayar gaji sekitar satu bulan. Separuh pegawainya dirumahkan setelah dua produk utama gagal bersaing di pasar.</p>
<p>Kisah itu menjadi pengingat bahwa perusahaan yang kini berada di jantung revolusi AI pernah berdiri di ambang kebangkrutan. Perjalanan tersebut juga memperlihatkan bahwa keberhasilan Nvidia bukan hasil kerja satu orang, melainkan buah kolaborasi tiga insinyur yang berani mempertaruhkan kariernya pada teknologi yang saat itu belum diyakini banyak orang.</p>
<p><strong>Berawal dari Meja Makan</strong></p>
<p>Nvidia lahir bukan di laboratorium besar ataupun kantor mewah Silicon Valley. Menurut sejarah perusahaan yang dipublikasikan <em>Nvidia Newsroom</em>, perusahaan itu berdiri pada 5 April 1993. Pendirinya ada tiga orang, yakni Jensen Huang, Chris Malachowsky, dan Curtis Priem. Ketiganya sepakat membangun perusahaan setelah berdiskusi mengenai masa depan komputasi grafis ketika bertemu di sebuah restoran Denny’s di San Jose, California, Amerika Serikat.</p>
<p>Saat itu, industri komputer masih berpusat pada pengembangan central processing unit (CPU) atau prosesor utama. Chip grafis belum dianggap sebagai teknologi yang akan menentukan masa depan komputasi. Ketiga pendiri Nvidia melihat arah yang berbeda.</p>
<p>Mereka meyakini bahwa kemampuan komputer mengolah gambar tiga dimensi akan berkembang jauh melampaui kebutuhan bermain gim. Kelak, kemampuan memproses jutaan perhitungan grafis secara bersamaan akan dibutuhkan untuk berbagai bidang, mulai dari simulasi ilmiah, penelitian kesehatan, hingga kecerdasan buatan. Keyakinan tersebut terdengar terlalu maju pada awal 1990-an.</p>
<p>Chris Malachowsky dan Curtis Priem merupakan insinyur yang berpengalaman mengembangkan sistem grafis di Sun Microsystems. Sementara Jensen Huang memiliki latar belakang sebagai perancang mikroprosesor di AMD dan LSI Logic. Kombinasi pengalaman bisnis dan rekayasa teknologi itu menjadi modal awal Nvidia.</p>
<p>Di antara ketiganya, Huang dipercaya menjadi presiden sekaligus CEO sejak hari pertama perusahaan berdiri. Malachowsky memimpin pengembangan teknologi sebagai arsitek berbagai produk Nvidia. Adapun Priem berperan merancang chip-chip generasi awal yang menjadi fondasi teknologi perusahaan.</p>
<p>Meski memiliki pembagian tugas, ketiganya membawa visi yang sama. Menurut <em>Nvidia Newsroom</em>, mereka percaya komputasi visual akan menjadi salah satu pilar utama perkembangan komputer. Keyakinan itu mendorong mereka mendirikan perusahaan ketika pasar chip grafis masih kecil dan dipenuhi ketidakpastian.</p>
<p>Membangun perusahaan chip bukan pekerjaan murah. Setiap rancangan prosesor membutuhkan waktu bertahun-tahun, biaya riset yang besar, serta kemampuan memproduksi chip dengan tingkat presisi tinggi. Kesalahan kecil dalam desain dapat membuat seluruh proyek gagal.</p>
<p>Risiko itu dihadapi Nvidia sejak awal berdiri. Setelah sekitar dua tahun mengembangkan produk pertamanya, Nvidia meluncurkan chip grafis NV1 pada 1995.</p>
<p>Menurut catatan sejarah pengembangan RIVA 128 (chip NV3) yang dirangkum Wikipedia, NV1 menggunakan pendekatan quadratic texture mapping. Teknologi tersebut berbeda dengan pendekatan berbasis segitiga yang kemudian menjadi standar industri.</p>
<p>Pada saat hampir bersamaan, Microsoft memperkenalkan DirectX sebagai antarmuka standar untuk grafis komputer berbasis sistem operasi Windows.</p>
<p>DirectX menggunakan metode triangle rendering. Para pengembang gim kemudian mengikuti standar tersebut agar produknya dapat berjalan di lebih banyak perangkat.</p>
<p>Pilihan Nvidia ternyata tidak sejalan dengan arah pasar. NV1 kehilangan daya saing bahkan sebelum memperoleh pangsa pasar yang luas. Produk pertama yang diharapkan menjadi pijakan perusahaan justru berubah menjadi beban keuangan.</p>
<p>Kegagalan itu tidak hanya mengurangi pendapatan Nvidia. Perusahaan juga harus tetap membiayai riset untuk mengembangkan produk berikutnya.</p>
<p>Harapan terakhir kemudian datang dari Sega. Perusahaan gim asal Jepang itu menggandeng Nvidia untuk mengembangkan chip grafis bagi konsol Dreamcast melalui proyek yang dikenal sebagai NV2.</p>
<p>Bagi Nvidia, proyek tersebut bukan sekadar kontrak bisnis. Jika berhasil, perusahaan akan memperoleh pendapatan yang cukup untuk melanjutkan pengembangan teknologi berikutnya. Sebaliknya, jika gagal, masa depan Nvidia berada dalam tanda tanya.</p>
<p>Di sinilah perjalanan tiga pendiri Nvidia memasuki ujian terberat. Harapan Nvidia bertumpu pada proyek NV2. Chip itu dikembangkan untuk konsol Dreamcast milik Sega, perusahaan gim asal Jepang yang saat itu menjadi salah satu pemain besar industri.</p>
<p>Bagi Nvidia, proyek tersebut lebih dari sekadar kontrak bisnis. Pendapatan dari Sega diharapkan memberi ruang bagi perusahaan untuk terus membiayai riset, sekaligus membuktikan bahwa teknologi yang mereka kembangkan mampu bersaing.</p>
<p>Namun, harapan itu kembali kandas. Menurut catatan sejarah pengembangan RIVA 128, Jensen Huang menyadari arsitektur NV2 bergerak ke arah yang keliru. Desain chip tersebut tidak lagi sejalan dengan perkembangan industri grafis yang mulai mengadopsi pendekatan berbasis segitiga.</p>
<p>Kesadaran itu datang ketika proyek telah berjalan lebih dari satu tahun. Artinya, Nvidia telah menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk mengembangkan teknologi yang diyakini tidak memiliki masa depan.</p>
<p>Di sinilah para pendiri Nvidia menghadapi pilihan paling sulit sejak perusahaan berdiri. Mereka dapat meneruskan proyek yang kecil kemungkinan berhasil demi menjaga arus kas. Pilihan lainnya adalah menghentikan proyek tersebut, meski risikonya perusahaan kehilangan sumber pendapatan terakhir.</p>
<p>Jensen Huang memilih jalan kedua. Keputusan itu tidak diambil seorang diri. Sebagai CEO, Huang memimpin arah perusahaan, tetapi keputusan tersebut lahir dari pembahasan bersama Chris Malachowsky dan Curtis Priem yang memahami konsekuensi teknis jika Nvidia tetap mempertahankan desain chip yang salah arah.</p>
<p>Keputusan itu membawa konsekuensi besar. Sega akhirnya memilih pemasok lain untuk Dreamcast. Menurut sejarah RIVA 128, Nvidia kehilangan proyek yang selama ini menjadi tumpuan harapan perusahaan.</p>
<p>Kondisi keuangan perusahaan memburuk dalam waktu singkat. Dari sekitar 100 pegawai, separuh harus dirumahkan. Langkah itu diambil agar Nvidia memiliki kesempatan bertahan lebih lama.</p>
<p>Meski demikian, penghematan tersebut belum cukup. Menurut catatan yang sama, uang di kas perusahaan hanya cukup membayar gaji sekitar satu bulan. Nvidia berada di titik yang sangat dekat dengan kebangkrutan.</p>
<p><strong>Terbang ke Jepang</strong></p>
<p>Di tengah kondisi tersebut, Jensen Huang mengambil langkah yang tidak lazim. Ia terbang ke Jepang untuk bertemu langsung dengan pimpinan Sega. Huang tidak datang membawa rancangan chip baru atau menawarkan proyek lain. Ia datang dengan satu permintaan yang menentukan masa depan Nvidia.</p>
<p>Dalam wawancara dengan Guy Raz yang dipublikasikan pada Mei 2026, Huang mengisahkan bahwa ia meminta Sega membatalkan kontrak pengembangan chip. Namun, ia berharap sisa nilai kontrak dapat diubah menjadi investasi bagi Nvidia.</p>
<p>Permintaan itu mengandung risiko besar. Sega dapat saja menolak dan mengakhiri hubungan dengan Nvidia. Jika itu terjadi, perusahaan kemungkinan tidak memiliki cukup dana untuk melanjutkan operasional.</p>
<p>Yang terjadi justru sebaliknya. Sega menyetujui permintaan tersebut dan menginvestasikan 5 juta dollar AS ke Nvidia.</p>
<p>Dana itu bukan solusi jangka panjang. Investasi tersebut hanya memberi Nvidia waktu untuk mencoba sekali lagi. Jika kesempatan terakhir itu gagal, perusahaan hampir pasti tidak dapat bertahan.</p>
<p>Media teknologi TechSpot mencatat, Huang kemudian memilih menghentikan seluruh proyek yang tidak lagi menjanjikan. Nvidia memangkas biaya, merampingkan organisasi, dan mengalihkan seluruh sumber daya pada satu produk baru.</p>
<p>Produk itu diberi nama RIVA 128. Berbeda dengan NV1 dan NV2, RIVA 128 dirancang mengikuti standar grafis berbasis segitiga yang ketika itu telah menjadi acuan industri melalui DirectX.</p>
<p>Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian desain. Nvidia mengakui bahwa pendekatan sebelumnya tidak berhasil. Perusahaan memilih mengikuti kebutuhan pasar tanpa meninggalkan kemampuan berinovasi.</p>
<p>Keputusan itu menjadi pelajaran penting bagi para pendirinya. Mereka menyadari bahwa inovasi tidak selalu berarti menawarkan teknologi yang berbeda. Inovasi juga berarti memahami arah perkembangan industri dan menyesuaikan strategi ketika keadaan berubah.</p>
<p>Taruhan itu akhirnya membuahkan hasil. RIVA 128 yang diluncurkan pada Agustus 1997 diterima pasar. Produk tersebut menjadi chip pertama Nvidia yang sukses secara komersial dan mengangkat kondisi keuangan perusahaan.</p>
<p>Kesuksesan RIVA 128 tidak langsung menjadikan Nvidia pemimpin pasar. Namun, produk itu memberi satu hal yang paling dibutuhkan perusahaan saat itu, yakni kesempatan untuk terus hidup.</p>
<p>Pengalaman hampir bangkrut tersebut kemudian membentuk budaya kerja Nvidia. Dalam berbagai kesempatan, Jensen Huang mengatakan bahwa perusahaan harus bekerja seolah-olah hanya memiliki waktu 30 hari sebelum kehabisan uang. Ungkapan itu menjadi pengingat agar Nvidia tidak pernah merasa terlalu nyaman dengan keberhasilannya.</p>
<p>Filosofi tersebut terus bertahan, bahkan ketika Nvidia tumbuh menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.</p>
<p><strong>Dari GPU Menuju AI</strong></p>
<p>Kesempatan kedua yang diperoleh Nvidia tidak disia-siakan. Setelah RIVA 128 diterima pasar, perusahaan mulai memperoleh ruang untuk kembali berinvestasi dalam riset. Para pendirinya memilih tetap berfokus pada teknologi grafis, tetapi dengan pandangan yang lebih jauh daripada sekadar kebutuhan industri gim.</p>
<p>Pada 1999, Nvidia memperkenalkan GeForce 256. Menurut biografi Jensen Huang di profil resminya di Nvidia Newsroom, produk itu dipasarkan sebagai graphics processing unit atau GPU pertama di dunia. Berbeda dengan CPU yang dirancang menangani beragam instruksi secara berurutan, GPU mampu mengolah ribuan proses dalam waktu bersamaan.</p>
<p>Kemampuan itu awalnya dimanfaatkan untuk menghasilkan grafis tiga dimensi yang lebih realistis.</p>
<p>Namun, para insinyur Nvidia melihat potensi lain. Mereka menyadari kemampuan pemrosesan paralel GPU juga dapat dipakai untuk menyelesaikan persoalan komputasi yang jauh lebih kompleks. Pemikiran tersebut melahirkan CUDA pada 2006.</p>
<p>Menurut <em>Nvidia Newsroom</em>, CUDA merupakan platform yang memungkinkan para peneliti dan pengembang perangkat lunak memanfaatkan GPU untuk kebutuhan di luar grafis. Teknologi itu kemudian dipakai dalam simulasi ilmiah, riset kesehatan, analisis keuangan, hingga pengembangan kecerdasan buatan.</p>
<p>Saat diluncurkan, CUDA belum banyak menarik perhatian. Sebagian pelaku industri masih memandang GPU sebagai perangkat untuk bermain gim. Nvidia justru memilih terus mengembangkan teknologi tersebut meski pasarnya belum besar. Keputusan itu kelak menjadi salah satu titik balik terpenting dalam sejarah perusahaan.</p>
<p>Memasuki dekade 2020-an, perkembangan kecerdasan buatan berlangsung jauh lebih cepat dibanding perkiraan banyak pihak.</p>
<p>Model AI generatif membutuhkan kemampuan komputasi dalam skala sangat besar. Proses melatih satu model bahasa membutuhkan miliaran hingga triliunan perhitungan yang harus dikerjakan secara bersamaan.</p>
<p>Kemampuan itulah yang dimiliki GPU Nvidia. Karena mampu menjalankan komputasi paralel dalam jumlah besar, GPU Nvidia menjadi komponen utama berbagai pusat data AI di dunia. Perusahaan-perusahaan teknologi berlomba memperoleh pasokan chip untuk mengembangkan model AI mereka.</p>
<p>Permintaan melonjak dalam waktu singkat. Menurut berbagai laporan industri, antrean pemesanan GPU Nvidia berlangsung hingga berbulan-bulan karena kapasitas produksi belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.</p>
<p>Lonjakan permintaan itu mengubah posisi Nvidia. Perusahaan yang pernah kesulitan menjual chip grafis kini menjadi pemasok teknologi yang diperebutkan perusahaan-perusahaan terbesar dunia.</p>
<p>Pada Oktober 2025 Nvidia menjadi perusahaan pertama yang menembus kapitalisasi pasar 5 triliun dollar AS. Pencapaian tersebut menjadi simbol perubahan besar yang dialami perusahaan selama lebih dari tiga dekade.</p>
<p>Meski memimpin perusahaan dengan nilai pasar tertinggi di dunia, Jensen Huang mengaku tidak pernah benar-benar melupakan masa ketika Nvidia hampir bangkrut.</p>
<p>Dalam podcast <em>The Joe Rogan Experience</em> yang dikutip majalah <em>Fortune</em> pada Desember 2025, Huang mengatakan, “Kami selalu merasa tinggal 30 hari lagi sebelum bangkrut.”</p>
<p>Fortune melaporkan, Huang masih bekerja tujuh hari dalam sepekan. Ia mengaku rasa khawatir terhadap kegagalan justru menjadi pendorong agar perusahaan terus bergerak maju.</p>
<p>Menurut Huang, keberhasilan sering membuat sebuah organisasi terlena. Sebaliknya, pengalaman gagal memaksa perusahaan terus belajar dan beradaptasi.</p>
<p>Pandangan yang sama ia sampaikan kepada Guy Raz dalam podcast <em>How I Built This.</em></p>
<p>Dalam tulisan yang dipublikasikan pada Mei 2026, Huang mengenang kembali perjalanannya ke Jepang untuk menemui pimpinan Sega. Ia menyebut keputusan meminta kontrak diubah menjadi investasi sebagai salah satu momen paling menentukan dalam hidupnya.</p>
<p>Guy Raz kemudian bertanya apakah Huang bersedia mengulang seluruh perjalanan tersebut.</p>
<p>Jawabannya singkat.</p>
<p>Tidak. Menurut Huang, pengalaman itu terlalu berat untuk dijalani sekali lagi.</p>
<p>Nvidia tidak menjadi besar karena tidak pernah gagal. Perusahaan itu bertahan karena para pendirinya bersedia mengakui kegagalan, mengubah strategi, dan memulai kembali ketika pilihan yang tersisa hampir tidak ada. BLOOMBERG | NVIDIA NEWSROOM | FORTUNE</p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/kisah-sukses-nvidia-dari-nyaris-bangkrut-kini-kuasai-ai/">Kisah Sukses Nvidia, Dari Nyaris Bangkrut Kini Kuasai AI</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 22/26 objects using Disk
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)

Served from: gokepri.com @ 2026-07-12 00:51:48 by W3 Total Cache
-->