<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opini &#8211; gokepri</title>
	<atom:link href="https://gokepri.com/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gokepri.com/opini/</link>
	<description>Inspirasi Bersama</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Jun 2026 01:45:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://gokepri.com/gokepri/uploads/2026/04/cropped-IMG_5700-32x32.jpeg</url>
	<title>Opini &#8211; gokepri</title>
	<link>https://gokepri.com/opini/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menggali Privilege Remaja: Diantara Karpet Merah Sosiologis dan Tekanan Mental Psikologis</title>
		<link>https://gokepri.com/menggali-privilege-remaja-diantara-karpet-merah-sosiologis-dan-tekanan-mental-psikologis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Feri Heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 01:45:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=132891</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr. Sarmini, S.Pd.,M.M., Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah Remaja identik dengan eksklusif performance. Mereka <a class="read-more" href="https://gokepri.com/menggali-privilege-remaja-diantara-karpet-merah-sosiologis-dan-tekanan-mental-psikologis/" title="Menggali Privilege Remaja: Diantara Karpet Merah Sosiologis dan Tekanan Mental Psikologis" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/menggali-privilege-remaja-diantara-karpet-merah-sosiologis-dan-tekanan-mental-psikologis/">Menggali Privilege Remaja: Diantara Karpet Merah Sosiologis dan Tekanan Mental Psikologis</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Dr. Sarmini, S.Pd.,M.M., Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah</strong></p>
<p>Remaja identik dengan eksklusif performance. Mereka ingin tampil maksimal karena ingin eksistensi diri diakui oleh semua orang. Ketika kita melihat kesenjangan performance dari yang high performance hingga yang low performance dari persepsi penampilan fisik, dari anak-anak remaja baik di sekolah, kampus, ataupun dimanapun kita jumpai mereka, maka yang terpikir adalah apa yang mereka dapatkan dari orang tuanya? Privilege apa yang mereka nikmati hingga mendapatkan hak istimewa tersebut?</p>
<p>Kata &#8220;privilege&#8221; atau hak istimewa telah berubah dari sekadar istilah akademis menjadi kosakata sehari-hari di platform media sosial. Di kalangan pemuda, istilah ini sering digunakan dengan nada merendahkan untuk meremehkan prestasi seseorang seakan-akan keberhasilan remaja dari keluarga mampu hanyalah akibat dari &#8220;jalur orang dalam&#8221; atau pewarisan harta saja. Namun, jika kita mau meneliti lebih mendalam tanpa pengaruh kecemburuan sosial, fenomena privilese di kalangan remaja jauh lebih rumit daripada sekadar jumlah uang orang tua atau kenyamanan fasilitas. Ini adalah jaringan kompleks yang membangun struktur sosial sekaligus mempengaruhi kesehatan mental mereka.<br />
Lensa Sosiologi – Lebih Dari Sekadar Uang, Melainkan &#8220;Kelebihan Awal&#8221;</p>
<p>Dalam perspektif sosiologi, privilege kerap dianggap hanya sebagai kekayaan finansial. Sementara itu, sosiolog terkemuka dari Prancis, *Pierre Bourdieu*, sebelumnya telah mengklasifikasikan modal dalam berbagai jenis: modal ekonomi, modal sosial (jaringan dan hubungan), serta modal budaya (pendidikan, cara berbicara, hingga selera).<br />
Remaja yang memiliki privilese tidak sekadar mendapatkan akses fisik seperti perangkat terbaru atau sekolah internasional.Yang lebih berpengaruh adalah “modal budaya” dan modal sosial yang diturunkan oleh orang tua mereka. &#8220;Sekolah umumnya memproduksi ketimpangan sosial bukan karena kurikulumnya memihak, tetapi karena sekolah menghargai modal budaya yang dibawa anak-anak dari kalangan atas—seperti kemampuan berbahasa asing, wawasan internasional, dan rasa percaya diri di hadapan pihak berwenang.&#8221;</p>
<p>Menurut teori dari Pierre Bourdieu (Distinction, 1984). Saat seorang remaja dari keluarga kelas menengah ke atas dengan gampang mendapatkan magang di perusahaan multinasional berkat jaringan orang tuanya, sosiologi memandangnya sebagai bentuk reproduksi sosial. Sosiolog modern dari jurnalisme ilmiah, Malcolm Gladwell, dalam bukunya “Outliers” juga menyatakan bahwa kesuksesan yang luar biasa biasanya bukan hanya hasil kerja keras individu. Gladwell menyebutkan istilah &#8220;keuntungan akumulatif&#8221; (accumulative advantage)</p>
<p>Lensa Psikologi &#8211; Keberadaan Gelap di Balik Karpet Merah</p>
<p>Jika sosiologi memandang privilege dari sudut luar (struktur dan akses), maka psikologi meneliti apa yang berlangsung di dalam pikiran dan emosi remaja tersebut. Terdapat anggapan yang salah di masyarakat bahwa remaja yang memiliki semua fasilitas kehidupan pasti merasa bahagia dan terhindar dari masalah kesehatan mental. Realitas psikologis justru memperlihatkan fakta yang berbeda.</p>
<p>Psikolog klinis terkenal dari Universitas Columbia, Dr. Suniya Luthar, telah menjalani penelitian mendalam selama beberapa dekade mengenai remaja dari keluarga berlimpah (affluent youth). Temuannya sangat mengejutkan: remaja dari kalangan kaya justru memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan zat, bahkan dalam beberapa kasus lebih tinggi dibandingkan remaja dari kelas pekerja.</p>
<p>Terkait apa penyebab terjadinya hal ini, Dr. Luthar mengidentifikasi dua faktor psikologis utama:</p>
<p>1. Dampak untuk Selalu Berprestasi (Impact to Achieve) : Remaja beruntung sering kali terbebani oleh harapan tersirat maupun tersurat dari orang tua dan sekitar mereka. Mereka diharapkan tidak hanya menjaga status sosial keluarga, tetapi juga melebihinya. Kegagalan dalam akademik atau karier bagi mereka dianggap sebagai bencana identitas.<br />
2. Keterasingan Fisik dan Emosional (Isolasi): Akibat kesibukan orang tua dalam mengejar atau mempertahankan karier serta kekayaan, remaja-remaja ini sering merasakan kekosongan emosional di rumah, yang kemudian mereka isi dengan pelarian yang merusak.<br />
Anak-anak dari keluarga kaya sering kali terjebak dalam tekanan yang luar biasa untuk mencapai kesempurnaan di semua aspek—akademis, olahraga, dan sosial. Saat merasa tidak mampu memenuhi standar tersebut, mereka merasakan kecemasan yang mendalam karena percaya bahwa nilai diri mereka hanya ditentukan oleh pencapaian menurut Dr. Suniya Luthar (The Affluence Culture, 2003)</p>
<p>Di samping itu, psikolog perkembangan,Dr. Madeline Levine dalam karyanya The Price of Privilege, menguraikan fenomena &#8220;self yang terputus&#8221;. Fasilitas materi yang melimpah sering kali menghalangi remaja untuk mengembangkan ketahanan mental (resilience). Saat semua rintangan hidup dihilangkan oleh kekuasaan atau uang orang tua (fenomena orang tua pemotong rumput), remaja tidak pernah belajar bagaimana cara terjatuh dan bangkit kembali. Sebagai hasilnya, mereka berkembang menjadi pribadi yang emosional lemah dan mudah mengalami krisis identitas saat memasuki fase dewasa yang tidak dapat dikendalikan oleh orang tua mereka.</p>
<p>Menuju &#8220;Pemeriksaan Privilege&#8221; yang Cermat</p>
<p>Menilai remaja hanya karena mereka lahir dalam kondisi beruntung adalah tindakan yang tidak adil secara psikologis, sama halnya dengan mengabaikan ketidaksetaraan struktural secara sosiologis. Seorang remaja tidak memiliki kontrol atas rahim tempat ia dilahirkan. Menggempur mereka secara pribadi di ranah publik hanya akan menciptakan sikap defensif dan menutup kemungkinan untuk berdialog.</p>
<p>Tindakan terbaik yang dapat diambil—oleh remaja itu sendiri, orang tua, maupun lingkungan pendidikan—adalah melaksanakan apa yang dikenal sebagai &#8220;privilege check&#8221;.<br />
Secara sosiologis, remaja harus dibimbing untuk memahami lingkungan. Mereka perlu menyadari bahwa kenyamanan yang mereka nikmati bukanlah ukuran kehidupan semua orang, sehingga timbul rasa syukur yang diiringi dengan empati dan tindakan sosial, bukan superioritas struktural. Keistimewaan yang dimiliki seharusnya tidak dijadikan alasan untuk bersikap malas, melainkan sebagai tanggung jawab moral (noblesse oblige) untuk memberikan akses dan mendukung mereka yang kurang beruntung. *</p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/menggali-privilege-remaja-diantara-karpet-merah-sosiologis-dan-tekanan-mental-psikologis/">Menggali Privilege Remaja: Diantara Karpet Merah Sosiologis dan Tekanan Mental Psikologis</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hari Buruh 2026: Antara Produktivitas, Keadilan, dan Masa Depan</title>
		<link>https://gokepri.com/hari-buruh-2026-antara-produktivitas-keadilan-dan-masa-depan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Feri Heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 May 2026 03:35:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=130976</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Linayati Lestari, Akademisi dan Pemerhati Isu Sosial Setiap tanggal 1 Mei, kita memperingati Hari <a class="read-more" href="https://gokepri.com/hari-buruh-2026-antara-produktivitas-keadilan-dan-masa-depan/" title="Hari Buruh 2026: Antara Produktivitas, Keadilan, dan Masa Depan" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/hari-buruh-2026-antara-produktivitas-keadilan-dan-masa-depan/">Hari Buruh 2026: Antara Produktivitas, Keadilan, dan Masa Depan</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Linayati Lestari, Akademisi dan Pemerhati Isu Sosial</strong></p>
<p>Setiap tanggal 1 Mei, kita memperingati Hari Buruh sebagai momentum refleksi atas relasi antara tenaga kerja, negara, dan pasar. Namun di tahun 2026, peringatan ini tidak lagi cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan atau sekadar tuntutan kenaikan upah. Lanskap ketenagakerjaan telah berubah secara signifikan, dipengaruhi oleh digitalisasi, fleksibilitas kerja, hingga ketidakpastian ekonomi global. Dalam konteks ini, Hari Buruh perlu dibaca ulang sebagai ruang dialog strategis tentang masa depan kerja yang lebih adil, adaptif, dan manusiawi.</p>
<p>Sebagai akademisi, saya melihat isu ketenagakerjaan tidak berdiri sendiri. Ia terhubungan erat dengan kebijakan publik, kualitas pendidikan, serta arah pembangunan nasional. Buruh hari ini bukan hanya pekerja pabrik atau sektor formal, tetapi juga mencakup pekerja digital, gig workers, hingga tenaga informal yang sering luput dari perlindungan hukum. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa sektor informal di Indonesia masih mendominasi, sementara perlindungan sosial bagi kelompok ini belum sepenuhnya optimal. Di sinilah negara dituntut hadir lebih kuat, tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator keadilan sosial.</p>
<p>Di wilayah seperti Batam dan Kepulauan Riau, dinamika ketenagakerjaan memiliki karakteristik tersendiri. Kawasan industri yang menjadi tulang punggung ekonomi seringkali menghadapi tantangan klasik: ketimpangan upah, outsourcing, hingga isu PHK. Namun di sisi lain, Batam juga memiliki potensi besar dalam ekonomi digital dan industri kreatif. Artinya, transformasi tenaga kerja bukan sekadar kebutuhan, tetapi keniscayaan. Pertanyaannya: apakah sistem pendidikan dan pelatihan kita sudah cukup responsif menjawab perubahan ini?</p>
<p>Kita tidak bisa lagi mempertahankan pendekatan lama dalam menyiapkan tenaga kerja. Pendidikan harus berorientasi pada penguatan keterampilan abad ke-21 yakni kritis, adaptif, dan kolaboratif. Buruh masa depan bukan hanya dituntut “patuh” dan “terampil”, tetapi juga mampu bernegosiasi, memahami haknya, dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Dalam bahasa sederhana: buruh bukan objek pembangunan, melainkan subjek yang aktif dan berdaya.</p>
<p>Hari Buruh juga menjadi pengingat bahwa produktivitas dan kesejahteraan tidak boleh dipertentangkan. Narasi lama yang menempatkan buruh sebagai “biaya produksi” harus digeser menjadi “aset strategis”. Perusahaan yang visioner memahami bahwa kesejahteraan pekerja berbanding lurus dengan kinerja organisasi. Ini bukan idealisme kosong, tetapi sudah terbukti dalam banyak praktik bisnis modern. Kita sedang berbicara tentang sustainable workforce, bukan sekadar tenaga kerja yang bisa diganti kapan saja.</p>
<p>Di tengah semua ini, peran pemerintah tetap krusial. Kebijakan upah minimum, jaminan sosial, hingga regulasi ketenagakerjaan harus dirancang berbasis data dan berpihak pada keadilan. Namun lebih dari itu, diperlukan keberanian politik untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan martabat manusia. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya angka-angka makro, tetapi sejauh mana kesejahteraan itu dirasakan oleh mereka yang bekerja setiap hari.</p>
<p>Hari Buruh 2026 seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar ruang tuntutan, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan. Dunia kerja sedang berubah cepat, dan kita tidak bisa meresponsnya dengan cara-cara lama. Dibutuhkan kolaborasi antara negara, dunia usaha, akademisi, dan tentu saja para pekerja itu sendiri. Karena pada akhirnya, kerja bukan hanya soal mencari nafkah. Ia adalah bagian dari martabat manusia. Dan memastikan martabat itu tetap terjaga, itulah esensi sejati dari Hari Buruh. *</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/hari-buruh-2026-antara-produktivitas-keadilan-dan-masa-depan/">Hari Buruh 2026: Antara Produktivitas, Keadilan, dan Masa Depan</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saksi Ahli Linguistik Forensik di Pengadilan</title>
		<link>https://gokepri.com/saksi-ahli-linguistik-forensik-di-pengadilan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Feri Heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 10:22:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=130648</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Sabriandi Erdian, Dosen di Politeknik Negeri Padang Peristiwa ataupun kasus dalam bentuk pidana ataupun <a class="read-more" href="https://gokepri.com/saksi-ahli-linguistik-forensik-di-pengadilan/" title="Saksi Ahli Linguistik Forensik di Pengadilan" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/saksi-ahli-linguistik-forensik-di-pengadilan/">Saksi Ahli Linguistik Forensik di Pengadilan</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Sabriandi Erdian, Dosen di Politeknik Negeri Padang </strong></p>
<p>Peristiwa ataupun kasus dalam bentuk pidana ataupun perdata yang terjadi dalam masyarakat pada era sekarang ini begitu canggih dan modern dengan modus yang dilakukan oleh pihak yang mencari keuntungan secara pribadi ataupun golongan.</p>
<p>Dalam menjalankan berbagai modus dan operandi, pada umumnya mereka mengggunakan bahasa sebagai komunikasi agar tujuan dan maksud tertentu tercapai sesuai dengan kesepakatan. Ilmu yang mengkaji tentang bahasa dalam suatu interdisiplin ilmu disebut dengan ilmu linguistik. Pada era sekarang ini, berkembangnya kolaborasi dalam interdisiplin ilmu antara linguistik dengan hukum dan disebut dengan linguistik forensik.</p>
<p>Linguistik forensik yang hadir di dunia akademik kampus dan dalam masyarakat (praktisi yang menekuni linguistik) pada era sekarang ini sangat memberikan manfaat dan kegunaan dalam menelaah kasus-kasus yang masuk pada pra persidangan dan persidangan.</p>
<p>Menurut Coulthard, Johnson dan Wright (2017) dalam bukunya An Introduction Forensic Linguistics Language In Evidence menyebutkan bahwa linguistik forensik adalah sub-bidang linguistik yang secara khusus terlibat dengan interaksi profesional dan institusional dalam interaksi hukum.</p>
<p>Sedangkan menurut pendapat dari Hamidi, linguistik forensik menonjolkan pada linguistik (bahasa) yang berhubungan dengan istilah hukum ataupun dengan serumpunnya (Tempo, 26 Desember 2020).</p>
<p>Pada analisis tersebut fokus kepada linguistik mikro dan makro yang meliputi; fonologi/fonetik akustik, morfologi, sintaksis, semantik, analisis wacana, pragmatik, penerjemahan, stilistika. Dengan adanya kolaborasi antar disiplin ilmu antara hukum dan linguistik akan lebih banyak mendapatkan manfaat sehingga bahasa yang dipergunakan oleh terdakwa, tersangka ataupun saksi akan lebih mudah ditelaah sesuai dengan kaidah linguistik.</p>
<p>Dalam kecanggihan dunia pada era sekarang ini dalam ilmu dan teknologi, begitu banyak peristiwa yang terjadi di masyarakat. Sehingga, untuk mendapatkan kebenaran dan pembenaran dari rekonstruksi peristiwa tersebut bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam menganalisisnya. Dibutuhkannya linguis dalam menelaah bahasa untuk menemukan suatu kepastian dalam berbahasa, sehingga tidak ada lagi ambigu dalam penafsiran yang dituturkan oleh tersangka/terdakwa ataupun saksi.</p>
<p>Saksi ahli linguistik forensik yang hadir di pengadilan untuk memberikan keterangan tentang terminology bahasa suatu peristiwa yang terjadi dalam hubungannya arti dan makna, memberikan keterangan tentang symbol ataupun kode yang dipergunakan oleh tersangka dan selama dipersidangan saksi ahli bekerja sesuai dengan proporsinya yakni, memiliki sertifikasi kebahasaan yang diakui, peneliti bahasa yang berhubungan persidangan dan lainnya sesuai dengan kebutuhan di pengadilan, dan segala administrasi saksi ahli sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku.</p>
<p>Hasil yang telah dikerjakan oleh saksi ahli linguistik forensik dalam menelaah bahasa terhadap tersangka disampaikan dihadapan hakim sebagai pertimbangan bahwa sesuai bahasa lisan maupun tulisan yang dipergunakan tersangka dalam kasus tersebut bahwa tersangka tersebut benar melakukan dan juga tidak benar melakukan sesuai dengan kaidah bahasa. Itulah alasan yang disampaikan oleh saksi ahli (forensik) bahwa ia mengerjakan dan menelaah kasus tersebut sesuai dengan bidangnya ataupun dapat disebut dengan ahli bahasa.</p>
<p>Seperti halnya dalam ujaran kebencian yang mengacu pada Undang-undang ITE bahwa setiap seseorang ataupun kelompok yang mempergunakan bahasa dalam bentuk lisan dan tulisan yang mengandung unsur ujaran kebencian akan dikenakan sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Linguis yang meneliti bahasa dalam bentuk digital yang terjadi di elektronik akan menelaah sesuai dengan kaidah bahasa yang dipergunakan. Dan dalam hal tesebut kadang seorang penerjemah yang telah disumpah, memenuhi kriteria seorang penerjemah akan memberikan hasil dari proses bahasa yang dipergunakan oleh tersangka.</p>
<p>Dibutuhkan ahli penerjemah bahasa dalam menganalisis bahasa sumber dan bahasa sasaran yang dipergunakan seseorang yang berhubungan dengan hukum akan mendapatkan arti dan makna sesuai dengan kebutuhan. Melalui proses penerjemahan yang dilakukan secara professional akan menghasilkan suatu kebenaran dan pembenaran dalam proses penerjemahan.</p>
<p>Untuk mendapatkan keabsahan dari seorang penerjemah maka, sangat dibutuhkan pengalaman dari penerjemah sehingga arti, makna, fungsi dan kedudukan bahasa sumber dan juga bahasa sasaran akan lebih tepat sesuai dengan kaidah bahasa. Ditambah lagi sertifikasi seorang penerjemah bahasa sebagai saksi ahli dalam menerjemahkan kasus yang dialami oleh seseorang. Karena ini akan menyangkut kedudukan beliau di masyarakat kedepannya. Dengan adanya linguis sebagai saksi ahli forensik dalam menelaah bahasa dengan kasus yang terjadi akan diperoleh kebenaran sesuai dengan filosofi bahasa. Baik itu dari teks ke konteks ataupun hubungannya dalam kehidupan sehari-hari seperti budaya, sosial, politik dan interdisiplin lainnya.</p>
<p>Jika kita masuk ke persidangan maka, kita akan mendapatkan berbagai informasi dan komunikasi bahasa yang mereka pergunakan dalam perkara tersebut yang dilakukan seseorang ataupun kelompok. Dalam konteks hukum sudah jelas bahwa dengan adanya minimal dua alat bukti akan dijadikan suatu pegangan untuk mendapatkan kebenaran dalam persidangan. Dalam persidangan setiap ujaran yang disampaikan menjadi alat bukti hukum untuk mengetahui apakah terdakwa, saksi menyampaikan dengan kebenaran atau kebohongan.</p>
<p>Karena dengan kebenaran yang disampaikan dalam persidangan akan lebih mempermudah dalam rekonstruksi peristiwa yang dilakukan oleh terdakwa atau yang menyangkut dalam hukum. Melalui bahasa lisan dan juga bahasa tulisan akan lebih dapat menjelajah bahasa yang dipergunakan seperti dalam bentuk simbol-simbol dalam berbahasa. Bahasa memiliki ciri keunikan dalam berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya dan dikarenakan dinamika budaya dalam berbahasa selalu dinamis. Perkembangan bahasa yang terjadi di suatu masyarakat sesuai dengan kebutuhan, kepentingan dan juga kekuasaan dalam berbahasa.</p>
<p>Hubungan timbal balik yang terjadi dalam bahasa dan hukum bahwa para pelaku dalam melakukan tindakan kejahatan akan meninggalkan jejak. Rekam jejak yang paling mudah dimengerti dan dipahami adalah bahasa yang mereka pergunakan, hal ini dikarenakan para pelaku tidak akan pernah melepaskan bahasa dalam menjalankan visi misinya untuk mendapatkan keuntungan baik secara pribadi dan juga secara kelompok.</p>
<p>Jika kita mencoba untuk menganalisis dengan satu pendekatan bahasa tubuh bahwa ketika seseorang tidak senang dengan orang lain akan nampak kelihatannya gerak geriknya. Namun jika kita masuk secara lebih ke dalam psikologi maka, pendalaman dalam bentuk wawancara akan mendapatkan titik terang yang lebih dalam menyelidiki kasus hukum melalui bahasa dan pendekatannya. Bahasa menjadi suatu hal yang sangat menarik dalam suatu kajian, sehingga untuk mendapatkan kebenaran dan pembenaran dibutuhkan analisis dari linguistik dalam kepastian berbahasa. **</p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/saksi-ahli-linguistik-forensik-di-pengadilan/">Saksi Ahli Linguistik Forensik di Pengadilan</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan Priyono Eko Sanyoto, Pejuang SDM Vokasi dari Batam untuk Masa Depan Indonesia</title>
		<link>https://gokepri.com/selamat-jalan-priyono-eko-sanyoto-pejuang-sdm-vokasi-dari-batam-untuk-masa-depan-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Feri Heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2026 14:08:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=129779</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr. Fendi Hidayat, S.T., M.Kom, Ketua Umum PP IAPolbat dan Ketua Dewan Pendidikan Kota <a class="read-more" href="https://gokepri.com/selamat-jalan-priyono-eko-sanyoto-pejuang-sdm-vokasi-dari-batam-untuk-masa-depan-indonesia/" title="Selamat Jalan Priyono Eko Sanyoto, Pejuang SDM Vokasi dari Batam untuk Masa Depan Indonesia" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/selamat-jalan-priyono-eko-sanyoto-pejuang-sdm-vokasi-dari-batam-untuk-masa-depan-indonesia/">Selamat Jalan Priyono Eko Sanyoto, Pejuang SDM Vokasi dari Batam untuk Masa Depan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Dr. Fendi Hidayat, S.T., M.Kom, Ketua Umum PP IAPolbat dan Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam</strong></p>
<p>Pada awal 2000-an, Batam berada dalam sebuah persimpangan penting. Pertumbuhan industri manufaktur meningkat signifikan, didorong oleh investasi asing dan posisi strategis yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia. Kawasan industri berkembang cepat, namun pada saat yang sama muncul persoalan mendasar: ketersediaan sumber daya manusia yang benar-benar siap kerja.</p>
<p>Dalam kerangka pembangunan ekonomi daerah, kondisi ini menunjukkan adanya mismatch antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Lulusan tersedia, tetapi tidak selalu relevan. Industri tumbuh, tetapi tidak sepenuhnya ditopang oleh tenaga kerja lokal yang kompeten.</p>
<p>Di titik inilah kehadiran Politeknik Negeri Batam menjadi signifikan. Institusi ini tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan sebagai respons terhadap kebutuhan riil pembangunan. Pendidikan vokasi ditempatkan sebagai instrumen strategis untuk menjembatani kesenjangan antara sistem pendidikan dan dunia kerja.</p>
<p>Di balik proses tersebut, terdapat sosok yang bekerja dengan arah yang jelas, meskipun tidak selalu tampak di permukaan: Priyono Eko Sanyoto.</p>
<p>Dengan tangan dinginnya, beliau tidak hanya mengelola institusi yang sedang tumbuh, tetapi mampu mengonsolidasikan tim, membangun budaya kerja, dan mengarahkan visi bersama. Salah satu capaian paling fundamental adalah keberhasilan mendorong transformasi Politeknik Batam menjadi perguruan tinggi negeri pada tahun 2010, menjadikannya sebagai perguruan tinggi negeri pertama di Kepulauan Riau. Capaian ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi memiliki implikasi strategis terhadap peningkatan kualitas, tata kelola, dan akses pendidikan tinggi di wilayah ini.</p>
<p>Sebagai direktur di masa awal pengembangan, beliau tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi membangun fondasi epistemik dan operasional pendidikan vokasi di Batam. Ia memahami bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi harus menghasilkan kompetensi yang terukur dan relevan.</p>
<p>Pendekatan yang ia lakukan dapat dibaca dalam kerangka link and match, sebuah konsep yang menekankan keterkaitan erat antara pendidikan dan kebutuhan industri. Namun dalam praktiknya, pendekatan tersebut tidak berhenti sebagai jargon kebijakan. Ia diterjemahkan ke dalam desain kurikulum, sistem pembelajaran berbasis praktik, serta penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan industri.</p>
<p>Langkah ini tidak selalu mudah. Pada fase awal, membangun kepercayaan industri terhadap institusi pendidikan membutuhkan waktu dan konsistensi. Namun strategi yang ditempuh menunjukkan hasil. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman kerja melalui program magang dan pembelajaran berbasis produksi.</p>
<p>Keunggulan geografis Batam sebagai wilayah perbatasan juga dibaca secara strategis oleh beliau. Kedekatan dengan pusat pendidikan dan industri di kawasan regional membuka peluang kolaborasi internasional. Dalam konteks ini, kerja sama dengan Nanyang Technological University serta jaringan perguruan tinggi di Malaysia menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya bagi para dosen dan tenaga pengajar.</p>
<p>Kolaborasi tersebut tidak hanya bersifat simbolik, tetapi berkontribusi pada peningkatan kompetensi akademik, transfer pengetahuan, serta penguatan standar pendidikan. Dengan demikian, pengembangan SDM tidak hanya terjadi pada mahasiswa, tetapi juga pada ekosistem pengajarnya.</p>
<p>Sebagai alumni, kami merasakan langsung implikasi dari pendekatan tersebut. Ketika memasuki dunia kerja, proses adaptasi menjadi relatif lebih singkat. Kompetensi yang dimiliki tidak berhenti pada tataran teoritis, tetapi telah teruji dalam praktik.</p>
<p>Namun kontribusi beliau tidak berhenti pada aspek sistem.</p>
<p>Dalam interaksi akademik, beliau menunjukkan karakter sebagai intelektual yang terbuka terhadap dialog. Diskusi tidak dibangun di atas otoritas, tetapi pada argumentasi. Mahasiswa dan alumni didorong untuk berpikir kritis, berbasis data, dan berorientasi pada solusi. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer ilmu, tetapi sebagai proses pembentukan nalar.</p>
<p>Sebagai Ketua Umum PP IAPOLBAT, saya melihat bahwa warisan terbesar beliau terletak pada integrasi antara visi, sistem, dan manusia. Ia tidak hanya membangun institusi, tetapi juga membangun ekosistem. Relasi antara kampus dan industri diperkuat, kualitas lulusan ditingkatkan, dan kepercayaan publik terhadap pendidikan vokasi perlahan tumbuh.</p>
<p>Dampak dari proses tersebut bersifat jangka panjang. Batam tidak hanya berkembang sebagai kawasan industri, tetapi juga sebagai wilayah yang memiliki basis sumber daya manusia yang semakin kompetitif di tingkat regional.</p>
<p>Kini, ketika beliau telah berpulang, yang hilang bukan sekadar seorang tokoh pendidikan, tetapi seorang perintis yang sejak awal membaca arah kebutuhan zaman dan meresponsnya dengan kerja nyata.</p>
<p>Dalam perspektif pembangunan, kontribusi seperti inilah yang menjadi fondasi kemajuan. Infrastruktur dapat dibangun dalam waktu relatif singkat, tetapi pembangunan manusia membutuhkan visi, konsistensi, dan kepemimpinan yang berkelanjutan.</p>
<p>Selamat jalan, Pak Eko.</p>
<p>Jejak yang Bapak tinggalkan tidak berhenti pada institusi yang berdiri, tetapi berlanjut dalam setiap lulusan yang bekerja, dalam setiap dosen yang berkembang, dan dalam setiap kolaborasi yang terus terbangun. Dalam arti itu, Bapak tetap hadir dalam masa depan yang pernah Bapak rancang.</p>
<p>Terima kasih atas ilmu, keteladanan, dan dedikasi yang telah Bapak berikan. Jejak pengabdian Bapak akan terus hidup dalam dalam keabadian, menjadi jejak yang terus menginspirasi setiap langkah kami.**</p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/selamat-jalan-priyono-eko-sanyoto-pejuang-sdm-vokasi-dari-batam-untuk-masa-depan-indonesia/">Selamat Jalan Priyono Eko Sanyoto, Pejuang SDM Vokasi dari Batam untuk Masa Depan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sepeda Li Claudia</title>
		<link>https://gokepri.com/sepeda-li-claudia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Candra Gunawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 09:07:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[batam folding bike]]></category>
		<category><![CDATA[Li Claudia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=129463</guid>

					<description><![CDATA[<p>Notifikasi di grup komunitas berbunyi, tanda ada pesan yang layak diperhatikan. Apalagi di penghujung pekan, <a class="read-more" href="https://gokepri.com/sepeda-li-claudia/" title="Sepeda Li Claudia" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/sepeda-li-claudia/">Sepeda Li Claudia</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Notifikasi di grup komunitas berbunyi, tanda ada pesan yang layak diperhatikan. Apalagi di penghujung pekan, biasanya ada yang menyapa: ajakan gowes setelah jeda Ramadhan dan Lebaran.</strong></p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-129464" src="https://gokepri.com/gokepri/uploads/2026/04/6E385F96-2766-49B3-9F9F-8C7AB9E0B382.png" alt="Opini rizal saputra" width="640" height="340" />Benar saja. Tapi kali ini bukan undangan biasa. Ia lahir dari satu sumber—BP Batam—lalu menjalar ke banyak ruang, membawa maksud yang sama. Sebuah ajakan gowes bersama Li Claudia Chandra, Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam. Disampaikan ringkas, namun maknanya tiba lebih dulu daripada kata-katanya. Bukan sekadar mengayuh sepeda, melainkan merajut kebersamaan di lintasan yang searah.</p>
<p>Pagi Minggu, 5 April 2026, halaman BP Batam kembali dipenuhi riuh yang hidup, bukan oleh kendaraan, melainkan oleh derak halus pedal dan tawa yang mengalir ringan. Ia menjelma menjadi ruang temu, tempat ratusan orang datang membawa satu irama yang serupa: bersepeda bersama.</p>
<p>Lebih dari seratus pesepeda berkumpul dengan niat yang beragam, namun bermuara pada tujuan yang serupa. Tema “GoSantun” terdengar lembut, nyaris puitis. Tapi di balik kesantunan itu, barangkali ada semangat yang sangat manusiawi: hasrat menebus santan, opor, dan segala limpahan nikmat menu Lebaran yang diam-diam menetap di tubuh, sekaligus alasan untuk kembali bergerak, bersama.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-129465" src="https://gokepri.com/gokepri/uploads/2026/04/E112F7B7-5282-4D44-8DA1-262EB122386C.jpeg" alt="Sepeda li claudia" width="640" height="364" srcset="https://gokepri.com/gokepri/uploads/2026/04/E112F7B7-5282-4D44-8DA1-262EB122386C.jpeg 640w, https://gokepri.com/gokepri/uploads/2026/04/E112F7B7-5282-4D44-8DA1-262EB122386C-300x170.jpeg 300w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Ketika ajakan itu datang, semangat itu seperti menemukan nyalanya. Ia bukan sekadar ajakan, tapi magnet. Ingatan pun melompat ke tanggal 15 Juni tahun lalu, saat seribu pesepeda tumpah di jalanan Batam, merayakan Hari Sepeda Dunia dan ulang tahun ke-16 Batam Folding Bike.</p>
<p>Hari itu, tak ada seremoni yang kaku. Tak ada bendera start yang dikibaskan dari pinggir. Li Claudia melangkah ke depan, mengambil panji bertuliskan “Batam Folding Bike”, mengangkatnya tinggi, lalu mengayuh dari garis terdepan. Bukan sekadar memulai, tapi menuntun.</p>
<p>Sejak saat itu, arah seperti tak lagi samar.</p>
<p>Li Claudia Chandra menjelma lebih dari sekadar pejabat yang hadir di acara. Ia menjadi simpul, tempat semangat bertaut dan energi kolektif menemukan bentuknya. Kayuhan demi kayuhan yang ia lakukan seolah menghidupkan kembali denyut kota dengan sepeda, yang sempat meredup setelah pandemi. Berkali-kali ia memimpin gowes bersama, termasuk saat Hari Bhakti BP Batam hingga perayaan Hari Jadi Batam ke-196 yang diikuti ribuan pesepeda. Batam kembali bergerak, bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam semangat kebersamaan.</p>
<p>Barangkali benar, dari atas sepeda, kota terlihat lebih jernih. Bukan hanya jalan dan bangunan, tapi juga celah-celah yang bisa diperbaiki, ruang-ruang yang bisa dipercantik. Pelan-pelan, itu mulai terjadi. Taman-taman dibenahi. Pot-pot bunga tertata di bundaran. Kabarnya, bougenville disiapkan untuk mekar di sepanjang jalan dan akan memberi warna pada perjalanan, memberi jeda pada lelah.</p>
<p>Menjelang finis, di antara napas yang mulai berat dan tawa yang tetap ringan, seseorang bertanya,<br />
“Bu, kapan bunga-bunga ini mulai ditanam?”</p>
<p>Li menoleh. Senyumnya tipis, tapi cukup untuk menenangkan.</p>
<p>“Sebentar lagi.”</p>
<p>Dua kata yang sederhana. Tapi di dalamnya ada keyakinan yang utuh: bahwa perubahan sedang berjalan, tanpa perlu gaduh.</p>
<p>Di situlah kita paham, bahwa bersepeda ini tak lagi sekadar tentang olahraga atau membakar kalori. Ini tentang cara memandang kota, cara merawat kebersamaan, dan cara percaya bahwa sesuatu yang baik bisa tumbuh, selama ada yang mau mengayuh lebih dulu.</p>
<p>Maka, marilah bersepeda. Seperti Li Claudia. Karena kota ini tak dibangun oleh mereka yang menunggu di garis akhir, melainkan oleh mereka yang berani mengayuh dari garis depan. <strong>***</strong></p>
<p><em>Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi</em></p>
<p><strong>Baca Artikel Opini Lain: </strong></p>
<ul>
<li><strong><a href="https://gokepri.com/membaca-fenomena-grocery-run-warga-singapura/">Membaca Fenomena Grocery Run Warga Singapura</a></strong></li>
<li><strong><a href="https://gokepri.com/banjarmasin-rindu-yang-berpilin/">Banjarmasin, Rindu yang Berpilin</a></strong></li>
</ul>
<p><strong>Cek Berita dan Artikel yang lain di <a href="https://news.google.com/publications/CAAqBwgKMJbIlQsw56yrAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen">Google News</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/sepeda-li-claudia/">Sepeda Li Claudia</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Krisis Air Berulang, Tata Kelola PDAM Tirta Kepri Harus Respons Cepat dan Lakukan Reformasi</title>
		<link>https://gokepri.com/krisis-air-berulang-tata-kelola-pdam-tirta-kepri-harus-respons-cepat-dan-lakukan-reformasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Feri Heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2026 09:08:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=129278</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Prof. Henry Eryanto, Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis UNJ, Warga Kepulauan Riau (Kepri) Krisis <a class="read-more" href="https://gokepri.com/krisis-air-berulang-tata-kelola-pdam-tirta-kepri-harus-respons-cepat-dan-lakukan-reformasi/" title="Krisis Air Berulang, Tata Kelola PDAM Tirta Kepri Harus Respons Cepat dan Lakukan Reformasi" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/krisis-air-berulang-tata-kelola-pdam-tirta-kepri-harus-respons-cepat-dan-lakukan-reformasi/">Krisis Air Berulang, Tata Kelola PDAM Tirta Kepri Harus Respons Cepat dan Lakukan Reformasi</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Prof. Henry Eryanto, Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis UNJ, Warga Kepulauan Riau (Kepri)</strong></p>
<p>Krisis air bersih yang berulang setiap musim kemarau di Kota Tanjungpinang dan wilayah sekitarnya menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam tata kelola sumber daya air daerah.</p>
<p>Berdasarkan kondisi terkini, ketinggian air Waduk Gesek sebagai sumber utama air baku PDAM Tirta Kepri berada pada kisaran 40–47 sentimeter, jauh di bawah kapasitas normal sekitar 2 meter. Penurunan signifikan ini berdampak langsung terhadap kualitas dan kontinuitas distribusi air kepada masyarakat, yang ditandai dengan air keruh, tekanan aliran melemah, hingga terhentinya pasokan air selama beberapa hari di sejumlah wilayah.</p>
<p>Secara sistematis, krisis air bersih yang terjadi sejak Februari di beberapa kawasan, termasuk Batu Sembilan, memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan air masyarakat yang terus meningkat dengan kesiapan infrastruktur serta strategi pengelolaan air baku yang tersedia. Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang bersifat esensial, sehingga gangguan distribusinya berimplikasi langsung terhadap kesehatan masyarakat, produktivitas ekonomi rumah tangga, serta stabilitas sosial.</p>
<p>Dalam praktiknya, sebagian masyarakat terpaksa menambah beban pengeluaran dengan membeli air dari pemasok alternatif menggunakan mobil tangki maupun galon, yang secara ekonomi meningkatkan biaya hidup, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan.</p>
<p>Kondisi krisis yang berulang menunjukkan bahwa persoalan air tidak lagi dapat dipandang sebagai fenomena musiman semata, melainkan telah berkembang menjadi isu struktural yang memerlukan reformasi tata kelola secara komprehensif. Dalam perspektif manajemen pelayanan publik, PDAM Tirta Kepri dituntut memiliki kapasitas respons cepat yang didukung oleh perencanaan berbasis data, sistem mitigasi risiko, serta kebijakan adaptif terhadap dinamika perubahan iklim. Ketergantungan pada pola penanganan yang reaktif berpotensi memperbesar dampak krisis karena tidak menyentuh akar persoalan yang berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya air.</p>
<p>Langkah reformasi yang diperlukan mencakup penguatan manajemen risiko melalui integrasi informasi iklim, peningkatan kapasitas tampung air baku, serta optimalisasi pemeliharaan infrastruktur sumber air. Koordinasi dengan BMKG menjadi relevan untuk memperoleh proyeksi cuaca yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan produksi air. Selain itu, konservasi daerah tangkapan air melalui rehabilitasi hutan, pengendalian sedimentasi waduk, serta normalisasi aliran sungai merupakan intervensi teknis yang secara empiris berkontribusi terhadap peningkatan stabilitas debit air. Reformasi tata kelola juga memerlukan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lain dalam menjaga keberlanjutan ekosistem air sebagai bagian dari pendekatan kolaboratif yang terintegrasi.</p>
<p>Dalam konteks kepemimpinan organisasi publik modern, pengelolaan PDAM membutuhkan orientasi kepemimpinan strategis yang tidak hanya berfokus pada aspek operasional teknis, tetapi juga pada kemampuan mengambil keputusan secara cepat, adaptif, dan berbasis bukti. Pendekatan tata kelola yang lincah menekankan pentingnya fleksibilitas kebijakan, kecepatan respons, serta kemampuan organisasi menyesuaikan strategi dengan perubahan kondisi lingkungan yang dinamis.</p>
<p>Apabila krisis air tidak segera direspons melalui langkah cepat dan reformasi yang terukur, dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan akan semakin luas, mulai dari meningkatnya beban biaya hidup masyarakat hingga potensi menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi penyedia layanan dasar.</p>
<p>Oleh karena itu, krisis air yang terjadi saat ini menjadi momentum evaluasi kelembagaan bagi PDAM Tirta Kepri untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan keandalan distribusi, serta memastikan terpenuhinya hak masyarakat atas akses air bersih yang berkelanjutan, adil, dan berkualitas. ***</p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/krisis-air-berulang-tata-kelola-pdam-tirta-kepri-harus-respons-cepat-dan-lakukan-reformasi/">Krisis Air Berulang, Tata Kelola PDAM Tirta Kepri Harus Respons Cepat dan Lakukan Reformasi</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mudik dalam Konteks Psikologis Shaum: Spiritualitas, Emosi, dan Rekonstruksi Diri</title>
		<link>https://gokepri.com/mudik-dalam-konteks-psikologis-shaum-spiritualitas-emosi-dan-rekonstruksi-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Feri Heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2026 03:04:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=128738</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr. C. Utrianto,S.Pd.,M.Pd., Dosen PAI di Institut Teknologi Indobaru Nasional dan Guru PAI di <a class="read-more" href="https://gokepri.com/mudik-dalam-konteks-psikologis-shaum-spiritualitas-emosi-dan-rekonstruksi-diri/" title="Mudik dalam Konteks Psikologis Shaum: Spiritualitas, Emosi, dan Rekonstruksi Diri" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/mudik-dalam-konteks-psikologis-shaum-spiritualitas-emosi-dan-rekonstruksi-diri/">Mudik dalam Konteks Psikologis Shaum: Spiritualitas, Emosi, dan Rekonstruksi Diri</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Dr. C. Utrianto,S.Pd.,M.Pd., Dosen PAI di Institut Teknologi Indobaru Nasional dan Guru PAI di SMK Negeri 1 Batam</strong></p>
<p>Mudik merupakan fenomena sosial-budaya khas Indonesia menjelang Idul Fitri. Dalam perspektif Islam, mudik bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan psikologis yang berkaitan dengan ibadah shaum. Artikel ini menganalisis mudik dalam konteks psikologis shaum dengan menyoroti dimensi spiritual, emosional, dan sosial.</p>
<p>Mudik telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia, terutama menjelang Idul Fitri setelah bulan Ramadan. Dalam konteks ini, mudik bukan hanya mobilitas sosial, tetapi juga refleksi spiritual setelah menjalani ibadah puasa.</p>
<p>Shaum melatih pengendalian diri, kesabaran, dan empati. Secara psikologis, individu mengalami proses penyucian diri (tazkiyatun nafs). Mudik kemudian menjadi sarana katarsis emosional, mempertemukan kembali individu dengan keluarga dan lingkungan asal.</p>
<p>Secara psikologi modern, mudik berkaitan dengan teori attachment, stress recovery, dan meaning-making. Kampung halaman menjadi ruang aman yang memulihkan kondisi mental.</p>
<p>Dalam perspektif sosial, mudik memperkuat silaturahim, solidaritas, dan integrasi sosial. Tradisi saling memaafkan memperkuat kohesi masyarakat.</p>
<p>Mudik dalam konteks shaum adalah perjalanan spiritual dan psikologis menuju fitrah. Ia memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama serta menjadi sarana rekonstruksi diri. *</p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/mudik-dalam-konteks-psikologis-shaum-spiritualitas-emosi-dan-rekonstruksi-diri/">Mudik dalam Konteks Psikologis Shaum: Spiritualitas, Emosi, dan Rekonstruksi Diri</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fastabiqul Khairat: Ketika Umat Harus Berlomba dalam Kebaikan, Bukan Sekadar Wacana</title>
		<link>https://gokepri.com/fastabiqul-khairat-ketika-umat-harus-berlomba-dalam-kebaikan-bukan-sekadar-wacana/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Feri Heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2026 01:43:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=128666</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr.Cand. Utrianto, S.Pd., M.Pd., Dosen di Institut Teknologi Indobaru Nasional dan pengurus MUI Kota <a class="read-more" href="https://gokepri.com/fastabiqul-khairat-ketika-umat-harus-berlomba-dalam-kebaikan-bukan-sekadar-wacana/" title="Fastabiqul Khairat: Ketika Umat Harus Berlomba dalam Kebaikan, Bukan Sekadar Wacana" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/fastabiqul-khairat-ketika-umat-harus-berlomba-dalam-kebaikan-bukan-sekadar-wacana/">Fastabiqul Khairat: Ketika Umat Harus Berlomba dalam Kebaikan, Bukan Sekadar Wacana</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Dr.Cand. Utrianto, S.Pd., M.Pd., Dosen di Institut Teknologi Indobaru Nasional dan pengurus MUI Kota Batam Bidang Ukhuwah Islamiyah</strong></p>
<p>Di tengah riuhnya kehidupan modern yang penuh kompetisi, manusia berlomba dalam banyak hal: kekayaan, jabatan, popularitas, bahkan pengaruh di ruang digital. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang sering luput dari kesadaran kita: dalam hal apa sebenarnya kita berlomba?</p>
<p>Islam telah memberikan jawaban tegas melalui firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 148: “Fastabiqul khairat”—berlomba-lombalah dalam kebaikan. Sayangnya, konsep ini sering berhenti pada tataran slogan. Ia dikutip dalam ceramah, ditulis dalam spanduk keagamaan, tetapi belum sepenuhnya menjelma menjadi budaya hidup umat.</p>
<p>Krisis Orientasi: Dari Kebaikan ke Kepentingan</p>
<p>Realitas hari ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi. Kompetisi yang seharusnya melahirkan kebaikan justru kerap berubah menjadi ajang saling menjatuhkan. Di media sosial, misalnya, tidak sedikit yang lebih sibuk berlomba dalam sensasi daripada substansi. Kebaikan kalah cepat dari kontroversi.</p>
<p>Padahal, dalam perspektif Islam, Fastabiqul Khairat bukan sekadar ajakan moral, tetapi merupakan perintah peradaban. Ia mengarahkan manusia untuk menjadikan kebaikan sebagai pusat dari seluruh aktivitas hidup. Penelitian kontemporer dalam kajian keislaman menunjukkan bahwa nilai ini memiliki dimensi luas—mulai dari spiritualitas, sosial, hingga transformasi digital umat. Artinya, Fastabiqul Khairat sangat relevan dengan tantangan zaman modern.</p>
<p>Makna Mendalam: Kompetisi yang Membangun, Bukan Menghancurkan<br />
Berbeda dengan kompetisi duniawi yang sering melahirkan egoisme, Fastabiqul Khairat justru melahirkan kolaborasi. Dalam Islam, ketika seseorang berbuat baik, ia tidak sedang mengalahkan orang lain, tetapi sedang mengajak orang lain untuk ikut dalam kebaikan.<br />
Inilah keindahan konsep ini: kompetisi tanpa permusuhan, keunggulan tanpa kesombongan, dan prestasi tanpa menjatuhkan.</p>
<p>Dalam kehidupan sosial Indonesia yang majemuk, nilai ini sangat penting. Ia menjadi fondasi bagi terciptanya harmoni, toleransi, dan solidaritas. Tradisi gotong royong, kepedulian sosial, dan semangat berbagi sejatinya adalah manifestasi nyata dari Fastabiqul Khairat.</p>
<p>Pendidikan yang Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Menghafal<br />
Salah satu tantangan terbesar dunia pendidikan hari ini adalah bagaimana mentransformasikan nilai menjadi karakter. Fastabiqul Khairat seharusnya tidak hanya diajarkan sebagai ayat yang dihafal, tetapi sebagai budaya yang dihidupkan.</p>
<p>Sekolah dan lembaga pendidikan Islam perlu mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kompetitif dalam kebaikan. Generasi yang berlomba dalam kejujuran, kedisiplinan, dan kontribusi sosial.</p>
<p>Studi terbaru dalam pendidikan Islam menunjukkan bahwa internalisasi nilai Fastabiqul Khairat mampu membentuk etos kerja, integritas, dan semangat berprestasi yang sehat. Ini adalah modal penting dalam membangun generasi emas umat.<br />
Etika Profesional: Bekerja sebagai Ibadah</p>
<p>Dalam dunia kerja, konsep ini menemukan relevansinya yang sangat kuat. Fastabiqul Khairat mengajarkan bahwa bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga ladang amal.</p>
<p>Seorang profesional Muslim tidak hanya dituntut untuk unggul, tetapi juga jujur, adil, dan bertanggung jawab. Ia tidak hanya ingin menjadi yang terbaik, tetapi juga menjadi yang paling bermanfaat.</p>
<p>Dalam konteks ini, Fastabiqul Khairat melahirkan etos kerja profetik—kerja yang dilandasi iman, dijalankan dengan integritas, dan diarahkan untuk kemaslahatan.</p>
<p>Dakwah di Era Digital: Berlomba dalam Konten Kebaikan</p>
<p>Era digital membuka peluang sekaligus tantangan baru. Hari ini, siapa pun bisa menjadi “produsen informasi”. Namun, tidak semua informasi membawa kebaikan. Di sinilah Fastabiqul Khairat menemukan medan barunya: ruang digital.<br />
Umat Islam dituntut untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen konten yang membawa nilai kebaikan. Dakwah tidak lagi terbatas di mimbar, tetapi hadir di layar-layar gawai.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah kita sudah ikut berlomba dalam menyebarkan kebaikan, atau justru menjadi bagian dari arus informasi yang merusak?</p>
<p>Dari Slogan Menuju Gerakan<br />
Sudah saatnya Fastabiqul Khairat tidak lagi berhenti sebagai jargon. Ia harus menjadi gerakan nyata—di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dan di ruang digital.</p>
<p>Kita membutuhkan perubahan paradigma dari sekadar menjadi “baik” menjadi aktif berlomba dalam kebaikan. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya pada apa yang ia miliki, tetapi pada seberapa besar kebaikan yang ia sebarkan.</p>
<p>Kembali pada Spirit Al-Qur’an<br />
Fastabiqul Khairat adalah panggilan Al-Qur’an yang melampaui ruang dan waktu. Ia relevan kemarin, hari ini, dan esok. Dalam dunia yang semakin kompetitif, Islam tidak menolak kompetisi—tetapi mengarahkannya. Bukan berlomba menjadi yang paling kaya, bukan yang paling terkenal,tetapi yang paling banyak berbuat kebaikan.</p>
<p>Maka, pertanyaan reflektif untuk kita semua, sudahkah kita benar-benar berlomba dalam kebaikan, atau justru tertinggal dalam perlombaan yang salah arah? **</p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/fastabiqul-khairat-ketika-umat-harus-berlomba-dalam-kebaikan-bukan-sekadar-wacana/">Fastabiqul Khairat: Ketika Umat Harus Berlomba dalam Kebaikan, Bukan Sekadar Wacana</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangun Karakter Generasi Muda Islam di Era Digital</title>
		<link>https://gokepri.com/membangun-karakter-generasi-muda-islam-di-era-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Feri Heryanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2026 03:29:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=128547</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr. C. Utrianto, S.Pd., M.Pd., Dosen di Institut Teknologi Indobaru Nasional dan pengurus MUI <a class="read-more" href="https://gokepri.com/membangun-karakter-generasi-muda-islam-di-era-digital/" title="Membangun Karakter Generasi Muda Islam di Era Digital" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/membangun-karakter-generasi-muda-islam-di-era-digital/">Membangun Karakter Generasi Muda Islam di Era Digital</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Dr. C. Utrianto, S.Pd., M.Pd., Dosen di Institut Teknologi Indobaru Nasional dan pengurus MUI Kota Batam Bidang Ukhuwah Islamiyah</strong></p>
<p>Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial generasi muda. Di satu sisi, teknologi memberikan akses luas terhadap ilmu pengetahuan dan komunikasi global, namun di sisi lain juga memunculkan berbagai tantangan moral yang dapat mempengaruhi pembentukan karakter generasi muda Muslim.</p>
<p>Generasi muda merupakan aset strategis bagi masa depan umat dan bangsa. Dalam perspektif Islam, generasi muda tidak hanya dipandang sebagai penerus peradaban, tetapi juga sebagai agen perubahan yang memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai moral dan spiritual masyarakat. Namun, perkembangan teknologi digital telah menciptakan perubahan sosial yang signifikan dalam kehidupan generasi muda.</p>
<p>Internet, media sosial, dan berbagai platform digital telah mempengaruhi cara berpikir, berinteraksi, serta membentuk sistem nilai generasi muda. Akses informasi yang sangat luas memungkinkan generasi muda memperoleh pengetahuan dengan cepat, tetapi juga membuka peluang masuknya nilai-nilai budaya yang tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam.</p>
<p>Dalam konteks tersebut, penguatan karakter generasi muda Islam menjadi sangat penting. Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang kuat.</p>
<p>Era digital telah mengubah pola interaksi sosial masyarakat. Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang sangat terhubung secara global melalui teknologi digital. Fenomena ini menciptakan proses sosialisasi baru yang tidak hanya terjadi melalui keluarga dan sekolah, tetapi juga melalui media digital.</p>
<p>Akibatnya, generasi muda menerima berbagai sistem nilai dari berbagai budaya yang berbeda. Kondisi ini dapat memunculkan fragmentasi identitas, yaitu kebingungan dalam menentukan nilai moral yang menjadi pedoman hidup. Oleh karena itu, pendidikan Islam memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai keimanan dan akhlak sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda.</p>
<p>Berbagai penelitian menunjukkan bahwa era digital juga memunculkan sejumlah permasalahan moral di kalangan generasi muda, seperti meningkatnya perilaku konsumtif, individualisme, cyberbullying, serta penyebaran informasi yang tidak benar. Fenomena ini menunjukkan adanya tantangan serius dalam pembentukan karakter generasi muda.</p>
<p>Dalam perspektif sosiologi agama, kondisi ini sering dikaitkan dengan melemahnya internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan generasi muda. Jika tidak diimbangi dengan pendidikan moral yang kuat, perkembangan teknologi dapat mempercepat terjadinya krisis karakter.</p>
<p>Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan strategi pendidikan yang komprehensif. Pendidikan karakter Islam harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan perkembangan teknologi modern.</p>
<p>Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:<br />
1. Integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum pendidikan.<br />
2. Penguatan peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama.<br />
3. Pemanfaatan teknologi digital sebagai media dakwah dan pendidikan.<br />
4. Penguatan literasi digital berbasis etika Islam.<br />
5. Keteladanan dari guru, orang tua, dan tokoh masyarakat.</p>
<p>Melalui strategi tersebut, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak serta tetap berpegang pada nilai-nilai moral dan spiritual.</p>
<p>Pembangunan karakter generasi muda Islam di era digital merupakan tantangan sekaligus peluang. Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai keimanan, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Melalui sinergi antara keluarga, pendidikan, dan masyarakat, generasi muda Islam diharapkan mampu menjadi generasi yang berkarakter, berilmu, serta mampu berkontribusi dalam membangun peradaban yang bermartabat.**</p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/membangun-karakter-generasi-muda-islam-di-era-digital/">Membangun Karakter Generasi Muda Islam di Era Digital</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membaca Fenomena Grocery Run Warga Singapura</title>
		<link>https://gokepri.com/membaca-fenomena-grocery-run-warga-singapura/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Candra Gunawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2026 06:57:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Bank indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[I Dewa Gede Natih Bernan]]></category>
		<category><![CDATA[singapura]]></category>
		<category><![CDATA[The Big Mac Index]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gokepri.com/?p=128240</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam bertetangga, kita sebagai manusia selalu diajarkan untuk hidup rukun dan saling membantu satu sama <a class="read-more" href="https://gokepri.com/membaca-fenomena-grocery-run-warga-singapura/" title="Membaca Fenomena Grocery Run Warga Singapura" itemprop="url">.</a></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/membaca-fenomena-grocery-run-warga-singapura/">Membaca Fenomena Grocery Run Warga Singapura</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dalam bertetangga, kita sebagai manusia selalu diajarkan untuk hidup rukun dan saling membantu satu sama lain. Hal yang sama juga berlaku bagi kehidupan negara yang bertetangga dekat.</strong></p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-128241" src="https://gokepri.com/gokepri/uploads/2026/03/EA5356B6-DEFE-4EB2-960C-D01000CD1767-e1773124969492.jpeg" alt="I Dewa Gede Natih Bernan" width="1200" height="639" /></p>
<p>Batam dan Singapura adalah dua wilayah yang hanya dipisahkan laut selebar 20 km, ibarat lima langkah dari rumah. Hubungan antara keduanya juga sudah terjalin erat sejak lama. Lihat saja deretan indikator penanaman modal atau investasi asing, mitra ekspor-impor utama, hingga asal kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Batam, seluruhnya menunjukkan nama yang sama di urutan paling atas: Singapura.</p>
<p>Berbicara wisman, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan turis asing ke Batam sepanjang tahun 2025 mencapai 1,6 juta orang, atau semakin meningkat dan mendekati level pra-pandemi. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen atau lebih dari 800 ribu orang merupakan warga negara Singapura. Apabila dirata-rata, sedikitnya 15 ribu orang dari negeri tetangga itu masuk ke Batam setiap minggunya. Ini tentu bukan angka yang sedikit.</p>
<p>Namun, yang saat ini menarik untuk dicermati tidak hanya volume kedatangan mereka, melainkan juga adanya pergeseran tujuan kunjungan tersebut. Jika sebelumnya Batam identik sebagai destinasi plesir akhir pekan dengan restoran seafood, tempat spa, hingga lapangan golf yang menjadi tujuan, kini peta perjalanan sedikit bergeser. Pusat perbelanjaan, supermarket, hingga toko grosir mulai masuk menjadi itinerary utama. Koper-koper yang tadinya dibawa penuh pakaian ganti kini disiapkan kosong untuk diisi tumpukan belanjaan kebutuhan harian, minyak goreng, bumbu dapur, hingga produk sanitasi. Bagaimana ini bisa terjadi?</p>
<p>Jawaban singkatnya: <em>Purchasing Power Parity (PPP)</em>. PPP merupakan suatu konsep yang menyatakan bahwa nilai uang tidak hanya terasa dari angka yang tertera di atas kertas, melainkan seberapa banyak barang yang bisa kita peroleh dari uang tersebut ketika dibawa ke tempat yang berbeda. Untuk memudahkan memahaminya, kita dapat menggunakan “The Big Mac Index” yang sering digunakan untuk menjelaskan konsep ini.</p>
<p>Berdasarkan <em>The Big Mac Index</em> tahun 2025, harga satu buah burger Big Mac di Singapura rata-rata sebesar S$ 6,90 atau setara dengan Rp81.000. Sementara itu, di Indonesia burger yang sama dapat diperoleh hanya dengan merogoh kocek Rp40.000 (setara S$ 3,40). Artinya, daya beli warga Singapura seolah melonjak dua kali lipat begitu mereka menginjakkan kaki di Batam. Di tengah harga-harga barang di negerinya sendiri yang merangkak naik, termasuk kenaikan PPN Singapura dari 7 persen menjadi 9 persen dalam dua tahun, hadirnya Batam yang hanya berjarak sepelemparan batu namun bisa membuat orang Singapura merasa “dua kali lipat lebih kaya” tentu menjadi insentif yang sangat menggiurkan. Lantas, bagaimana dampak fenomena ini bagi warga Batam?</p>
<h4><strong>Magnet Ekonomi Baru</strong></h4>
<p>Di satu sisi, masuknya warga Singapura ke Batam membawa dampak positif berupa injeksi devisa. Uang yang mereka belanjakan di Batam, baik untuk kebutuhan maupun wisata, merupakan suntikan likuiditas yang akan mendorong perputaran ekonomi Batam. Hal ini sejalan dengan rilis data BPS yang menyatakan perekonomian Kepri—yang hampir 70 persennya bersumber dari Batam—tercatat tumbuh tinggi mencapai 7,89 persen (yoy) pada triwulan IV 2025. Capaian itu membuat pertumbuhan ekonomi Kepri menjadi yang tertinggi keempat secara nasional, bahkan sedikit lagi sudah dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi dalam Asta Cita sebesar 8 persen.</p>
<p>Apabila dilihat sedikit lebih dalam, sektor perdagangan besar dan eceran juga tumbuh meningkat, dari 5,54 persen (yoy) pada triwulan III 2025 menjadi 7,57 persen (yoy) pada triwulan IV 2025. Sektor ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi Kepri, dengan kontribusi mencapai 9 persen terhadap perekonomian secara keseluruhan. Sektor ini juga menjadi yang pertama terdorong dari adanya fenomena “koper kosong” warga Singapura.</p>
<h4><strong>Risiko Inflasi</strong></h4>
<p>Meskipun demikian, fenomena ini bukan tanpa risiko. Ramainya warga Singapura di pusat perbelanjaan berarti semakin banyak “tangan” yang mengambil stok bahan pokok yang ada di rak-rak supermarket Batam. Berdasarkan teori demand-pull inflation, jika permintaan terhadap bahan pokok meningkat, otomatis harga juga akan ikut terkerek naik. Apalagi tangan yang baru muncul ini bukan tangan sembarangan, melainkan tangan yang memiliki purchasing power dua kali lipat dibanding tangan biasa. Jika tidak diimbangi dengan supply yang cukup, kenaikan inflasi menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan.</p>
<p>Kondisi ini menempatkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sebagai garda terdepan untuk melakukan langkah-langkah proaktif. Tidak hanya memastikan keterjangkauan harga di pasar, TPID juga perlu memperkuat strategi ketersediaan pasokan melalui kerja sama antar daerah (KAD) yang lebih masif dengan wilayah surplus, guna memastikan stok pangan di Batam tetap terjaga meskipun adanya tambahan permintaan. Selain itu, sinergi dengan distributor juga perlu diperkuat untuk memastikan kelancaran aliran distribusi pangan ke Batam. Seruan untuk bijak berbelanja juga perlu terus dikomunikasikan secara efektif kepada masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi.</p>
<p>Pada akhirnya, fenomena grocery run warga Singapura membuktikan semakin terintegrasinya ekonomi Batam dengan dunia luar. Meskipun tetap ada risiko, bukan berarti kita harus segera membangun pagar yang tinggi untuk membatasi kedatangan tetangga kita. Hal ini dapat dipandang sebagai peluang, dengan terus memperkokoh fondasi di dalam rumah sendiri. Caranya melalui penguatan rantai pasok distribusi pangan, pemantauan harga, menjaga ketersediaan pasokan, hingga komunikasi efektif untuk pengendalian ekspektasi inflasi. Dengan begitu, ekonomi Batam dapat tetap berdiri tegar menghadapi arus permintaan yang mengalir deras tanpa harus mengorbankan warga lokal yang terhimpit kenaikan harga. (*)</p>
<p><strong>Tentang Penulis</strong></p>
<p>I Dewa Gede Natih Bernan, Ekonom Yunior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau. Penulis adalah seorang pengamat ekonomi yang saat ini aktif sebagai Ekonom Yunior di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau. Penulis memiliki ketertarikan mendalam pada isu kebijakan moneter, stabilitas harga, inflasi, serta dinamika perekonomian di daerah.<br />
​<br />
<em>Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi</em></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p><strong>Simak Opini Lain: </strong></p>
<ul>
<li><strong><a href="https://gokepri.com/indeks-ketahanan-pangan-vs-inflasi/">Indeks Ketahanan Pangan Vs Inflasi</a></strong></li>
<li><strong><a href="https://gokepri.com/gaya-hidup-digital-dan-bahaya-utang-instan-bijak-atau-terjebak/">Gaya Hidup Digital dan Bahaya Utang Instan: Bijak atau Terjebak?</a></strong></li>
</ul>
<p><strong>Cek Berita dan Artikel yang lain di <a href="https://news.google.com/publications/CAAqBwgKMJbIlQsw56yrAw?hl=en-ID&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aen">Google News</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://gokepri.com/membaca-fenomena-grocery-run-warga-singapura/">Membaca Fenomena Grocery Run Warga Singapura</a> appeared first on <a href="https://gokepri.com">gokepri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 26/35 objects using Disk
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)

Served from: gokepri.com @ 2026-06-10 01:47:30 by W3 Total Cache
-->