Batam Diagnosis Covid-19 dengan Tes Antigen

Tim Satgas Penanganan Covid-19 Kota Batam menggelar Rapid Test Antigen di rumah susun (rusun) BP Batam Bida Ampar, Batu Ampar pada Kamis (29/7/2021).
Tim Satgas Penanganan Covid-19 Kota Batam menggelar Rapid Test Antigen di rumah susun (rusun) BP Batam Bida Ampar, Batu Ampar pada Kamis (29/7/2021).

Batam (gokepri.com) – Kota Batam menyiapkan tes swab antigen gratis untuk mempercepat penemuan kasus dan melacak penyebaran Covid-19. Kebijakan ini juga sebagai langkah untuk meningkatkan testing dan tracing Covid-19 di masa PPKM.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan tim untuk melakukan tes swab antigen tersebut. Tim yang terdiri dari Pemko Batam dan Forkopimda tersebut akan turun ke tempat-tempat sasaran untuk melakukan testing dan tracing.

“Tim sudah mulai turun,” katanya.

Salah satu tempat yang telah dilakukan tes swab antigen adalah di rumah susun (rusun) BP Batam Bida Ampar, Batu Ampar. Di tempat ini, Tim Satgas Penanganan Covid-19 Kota Batam melakukan antigen massal terhadap 556 penghuni rusun pada Kamis (29/7/2021).

“Yang positif akan kami pisahkan, merawat, dan membiayainya dan memberikan sembako untuk yang membutuhkan,” ucap Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, Kamis (29/7/2021).

Kasus baru positif Covid-19 di Kota Batam cenderung menurun akhir-akhir ini. Kasus harian tertinggi sempat mencapai puncaknya pada 18 Juli dengan 523 kasus. Kemarin, kasus baru positif Covid-19 hanya bertambah 270 kasus, terdiri dari 185 kasus bergejala, 69 tanpa gejala, 3 kasus impor, dan 13 kontak.

Kemudian angka kesembuhan makin membaik dengan 403 pasien sembuh. Penambahan ini menjadikan total kesembuhan mencapai 19.610 atau 85,88 persen dari 22.834 kasus positif Covid-19 di batam. Sebanyak 584 di antaranya meninggal dan 2.640 sedang dirawat.

Rudi bersyukur kasus mulai turun dan mengklaim salah satunya karena penyekatan yang telah dilakukan berkat bantuan TNI-Polri. “Kalau tren menurun kasus dapat kita pertahankan, dua minggu lagi saya yakin akan melandai,” ucapnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan kepada Kepala Dinas Kesehatan baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia agar meningkatkan testing dan tracing di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor : H.K.02.02/II/1918 /2021 tentang Percepatan Pemeriksaan dan Pelacakan Dalam Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang ditetapkan pada tanggal 23 Juli 2021.

“Surat edaran ini dimaksudkan untuk percepatan penanggulangan pandemi pada masa PPKM melalui penguatan pilar deteksi dengan pelaksanaan peningkatan jumlah pemeriksaan dan pelacakan kontak,” kata Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu.

Pihaknya menjelaskan langkah ini merupakan bagian dari percepatan penemuan kasus terkonfirmasi maupun kontak erat kasus positif Covid-19. Sehingga bisa dilakukan penanganan sedini mungkin dengan harapan dapat menekan terjadinya kasus perburukan maupun kematian.

“Penguatan testing dan tracing ini, akan diutamakan bagi wilayah-wilayah dengan mobilitas masyarakat dan tingkat penularan kasusnya tinggi, sehingga dengan mengetahui kasus lebih cepat, maka bisa segera dilakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi laju penularan virus,” tuturnya.

Dalam aturan tersebut merinci bahwa daerah yang masuk kategori PPKM level 3 dan 4 diperbolehkan menggunakan hasil pemeriksaan test Rapid Antigen (RDT-Ag) sebagai diagnosa untuk pelacakan kontak erat maupun suspek, dan bisa juga dipakai sebagai data dukung dalam pengajuan klaim Covid-19. Penggunaan RDT Antigen diutamakan bagi daerah yang alat diagnosisnya terbatas, sehingga hasilnya bisa diketahui lebih cepat dan tes dapat dilakukan secara masif sehingga dapat mempercepat tracing.

Seseorang yang teridentifikasi sebagai kontak erat baik yang bergejala maupun tidak bergejala, diwajibkan mengikuti pemeriksaan entry dan exit test. Apabila pemeriksaan RDT-Ag di hari pertama hasilnya negatif, dilanjutkan dengan test swab PCR pada hari kelima (exit test). Bagi daerah yang tidak ada fasilitas lab PCR, pelaksanaan exit test bisa menggunakan RDT-Ag.

Di samping penguatan testing, Kementerian Kesehatan juga akan memperketat penanganan kontak erat. Seluruh kontak erat dari kasus terkonfirmasi harus di karantina sampai hasil tes menyatakan negatif agar tidak menjadi sumber penularan di tengah masyarakat.

“Untuk meningkatkan pelacakan kontak, seluruh orang yang tinggal serumah dan bekerja di ruangan yang sama dianggap kontak erat serta wajib dilakukan pemeriksaan (entri tes) dan karantina,” kata Dirjen Maxi. (zak)

BAGIKAN